Menghitung Bintang

by 22.06 0 komentar

di persembahkan khusus teruntuk Gal.
Sebagai kado, mungkin kamu tidak akan terkejut.
Memang cerpen ini sangat sederhana, tetapi kamu perlu tau satu hal.
Aku membuatnya dengan tulus. :)
Asal ingat saja,
Ketulusan itu mahal. Dan tidak semua orang sedermawaan aku. :p ;p

___


“Gal, sudah selesai belum menghitung bintangnya?” Dennis bertanya seraya mengguncang-guncang bahuku, meminta diberi perhatian. “Jadi, ada berapa bintang, Gal?” rengeknya kemudian.
           
            “Banyak,” jawabku asal. Dennis malah mencubit pinggangku, membuatku meronta sakit sekaligus geli. “Lho, aku serius. Memang banyak, tak terhitung. Coba kau lihat sendiri!”
           
            Dennis menengadahkan kepalanya ke langit, dia tersenyum kepada dirinya sendiri. Matanya membulat, berbinar-binar. Sesekali ia berdecak kagum.

            “Sudah hampir tengah malam, kita pulang saja ya?” aku mengalihkan pembicaraan. “Tuh.. kamu juga sudah ngantuk begitu. Bahkan jam tidurmu kelewat dua jam dari sekarang,” tambahku lagi.
           
            Dennis menggeleng. “Pokoknya, kamu harus berhasil menghitung banyaknya bintang di langit malam ini. Harus!” katanya merengek. Rengekan yang tidak pernah bisa aku elak.
                       
            Berulang kali, aku menangkap basah Dennis tengah menguap. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap terjaga, meskipun pada akhirnya matanya lebih banyak memejam. Pada akhirnya juga, ia menyandarkan pipi kirinya di bahuku.

            “Gal, jadi ada berapa bintang?” tanya Dennis lagi, memecahkan keheningan. Tapi suaranya tidak selatang tadi. Aku yakin, dia benar-benar sudah mengantuk. Kurasa sebentar lagi dia akan sepenuhnya tertidur. Dia paling tidak berdaya melawan kantuk.

            “Pulang sekarang ya?” Lagi-lagi, aku mengalihkan pembicaraan. Bukannya aku sudah mengatuk, kedinginan atau lelah menghitung bintang, tetapi aku benar-benar tidak sampai hati membiarkan perempuan yang aku cintai setelah Ibuku ini, terlunta-lunta seperti saat ini.
           
            “Tapi aku masih betah…” Dennis seperti mengigau. “Aku masih sanggup menemanimu, menghitung banyak bintang.”

***


DENNIS

“Selamat Ulang Tahun, Sayang!!” tiba-tiba sebuah telapak tangan dengan lembut menutup sepasang mataku, sesaat sempat membuatku gelagapan. Tapi dengan mudahnya, aku segera menyadari siapa pemilik telapak tangan ini.

            “Ugghhh, Gal, lepasin. Sesak nih!” aku pura-pura meronta, supaya Galih tidak pikir panjang untuk menurut. Walau akhirnya aku tau, aku tidak perlu sedrama ini.

            “Hehe..” Jepret! Senyumnya yang begitu manis tertangkap oleh mataku, senyuman yang membuatku ikut tersenyum juga. Gal, aku benar-benar bersyukur mengenalmu, kataku dalam hati.

            “Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun, Sayang! Segala harapanmu, aku mengaminkan seluruhnya tanpa celah!” Galih menjabat tanganku, bukan… bukan menjabat, melainkan meremas gemas.

“Karena hari ini adalah hari ulangtahunmu, aku punya paket khusus untukmu, paket paling istimewa. Itu juga merupakan salah-satu kado dariku,” tambahnya lagi dengan penuh semangat. Senyumnya merekah. Senyum pria yang satu ini memang harusnya di awetkan di kulkas, atau di simpan di sebuah tempat yang paling tidak mungkin di jangkau semut.

            “Hehe, iya aa. Terimakasih banyak. Eh, tunggu.. tunggu, memangnya paket istimewa apa nih?” tanyaku, menatap Galih penuh selidik.

            “Selama seharian penuh ini, aku tidak akan bilang “TIDAK” untuk keinginanmu. Jadi apapun inginmu, bilanglah kepadaku. Akan aku kabulkan, bahkan detik ini juga!” Gal! Kamu keterlaluan, masih sepagi ini kamu sudah membuatku melambung tinggi.

Tuhan, pijakkan aku kembali saat kata-kata pria ini membuatku melambung tinggi.

“Serius, Gal?? Berjanjilah!” kemudian, Galih merekatkan kelingkingnya dengan kelingkingku.

“Aku janji! Paket ini sudah berlaku, mulai detik ini juga.” Galih berlagak sok keren saat mengatakannya. “Jadi, apa keinginanmu yang pertama?”

Aku tidak menjawab, melainkan menarik tangannya untuk segera meninggalkan taman ini.

Tanpa genggaman ini, apa jadinya kita?

***

Sepanjang hari ini Dennis bertingkah sangat aneh, kalau aku perhatikan. Setelah menyaksikan senja di pantai tadi, dia bilang ingin ditemani ke pasar malam. Di sana, dia membeli banyak sekali harum manis sebelum kami naik bianglala raksasa.

            “Hei, untuk apa beli harum manis sebanyak ini? Siapa yang akan menghabisnya coba??” aku mendelikkan mataku kepadanya, memprotes.
           
            “Jangan banyak tanya, seharusnya kamu membantuku membawanya. Tenang, kamu kebagian jatah kok.” Dennis menjawab dengan santai.

***


DENNIS

“Hei, Dennis! Jangan melamun melulu.” Suara Galih memecahkan hening yang sedang di cipta kepalaku. Aku tersenyum enggan, agak merasa terganggu. Walau ini sebenarnya bukan salahnya.

            “Jangan melamun melulu ah, mengabaikan aku begini.” Katanya lagi, seraya menyodorkan es degan yang kupesan tadi.

            “Gal, apa kamu mencintaiku?” aku bertanya seraya menyandarkan kepalaku di bahunya. Untuk sesaat, Galih nampak tertegun.

            “Aku sangat mencintaimu. Bahkan jika ada kata di atas sangat, aku akan memilihnya detik ini juga,” Galih menatap mataku lekat-lekat. Aku berani bersumpah itu adalah mata terindah yang pernah menatapku.

            “Kenapa Gal??”

            “Hei, aku mencintaimu. Semua terjadi begitu saja. Mencintaimu bukan bagian dari rencanaku. Dan aku tidak perlu banyak alasan untuk mencintaimu. Aku mencintaimu saja!” serunya.

            “Benarkah??” aku menyipitkan mataku menggodanya.

            “Kau tau kan, aku paling tidak suka bicara omongkosong,” Galih tersenyum kepadaku, tatapannya masih selekat tadi. Itulah mata, yang dihadapannya aku selalu ingin ada.

            “Yayaya, aku tau. Tapi, kenapa kamu tidak jawab, ‘Apa aku pernah sedrama ini, Sayang? Kamu adalah segalanya untukku,’ Huhh, selalu saja kamu menyia-nyiakan kesempatan menggombal yang aku berikan. Eh, tunggu… sejak kapan kamu pensiun menggombal? Hah?” godaku, seraya mengacak-acak rambut gondrongnya.

            “Eh, memangnya sejak kapan kamu suka di gombalin?” Galih memprotes. Ia mencubit pipiku dengan gemas.

            Mendengar jawabannya lalu aku pun tertawa. Galih, surat terbuka dari Tuhan untuk kebahagiaanku, kekasihku. Dia tidak seperti kebanyakan pria-pria lain yang murah gombal, hanya untuk sekedar mendapat nilai lebih di mataku.

            “Gal, bagaimana ya caranya menjadi seperti senja?” aku meremas tangan Galih, memastikannya menyimak pertanyaanku.

            “Maksudmu?” Sudah kuduga, Galih akan mengerutkan kening.

            “Menjadi seperti senja, bagaimana meski dia tidak selalu nampak di depan mata, tetapi warnanya melekat di ingatan manusia sepanjang usia.” Aku memalingkan wajah darinya, kembali memandang ke ufuk barat. Senja yang indah.

            “Terserahmu, deh,” Galih mengusap rambutku, “Asal jangan jadi yang tidak aku suka.”

            “Apa yang tidak kamu suka, itu pantangan buatku! Mana mungkin sampai hati untuk sekedar mengecewakanmu,” aku menyenggolnya. Gerakkan spontanku sukses membuat Galih kehilangan keseimbangan sesaat, dan aku begitu menikmatinya.

            “Asal kau tau, Nis. Kamu beruntung, kenapa? Karena aku mencintaimu tidak tanggung-tanggung!” Galih sengaja berseru lantang, menatapku penuh arti. Mendengarnya, spontan aku mencubit pinggangnya hingga membuat Galih meringis geli.

            Indahnya senja bukan perihal di mata kita merekamnya, tetapi perihal dengan siapa kita merekamnya. Kamu ingat senja itu, Gal?

***


Ini sudah terlalu larut untuk masih duduk di Taman. Pukul 01. 45 dan aku masih menghitung bintang. Sejujurnya, ini lebih membuatku pusing ketimbang naik bianglala. Begitu banyak bintang yang bertabur disana-sini, sempat membuatku menggerutu dalam hati.

            “Pulang yukk?” aku belum lelah merajuk untuk pulang. Seketika Dennis terjaga, membuka matanya selebar mungkin. Ia menggeleng lemah.

            Aku menghela nafas panjang. Ini memang salahku, seharusnya tidak perlu ada janji untuk tidak akan berkata ‘tidak’ seharian penuh. Aku menarik kepalanya untuk disandarkan di bahuku, mengusap rambutnya yang selalu beraroma teh hijau, mencoba menghirupnya dan seketika aku pun selalu ingin menyayanginya lebih. Cinta seajaib ini.
               
            “Jangan terlalu memaksakan dirimu, kalau mengantuk ya pejamkan matamu. Tidurlah, jangan sampai kamu jatuh sakit.” Dennis berucap hangat di telingaku. Padahal hey, aku yang seharusnya mengatakan ini.

            “Kalau aku memejamkan mata, bagaimana aku bisa memandangmu?” aku menggenggam tangannya, kurasa Dennis tertegun akan jawabanku. “Tenanglah, aku disini terjaga. Menjagamu.”

            “Lewat foto kan bisa, kita telah berfoto bersama beratus kali.” Dennis kembali mengacak-acak rambutku seraya tertawa lepas.

            “Yaya, tapi memandangmu langsung itu lebih membahagiakan.”

            “Kenapa??”

            “Jangan tanya kenapa,” aku mencoba menahan rasa kantuk yang terlalu ini. Bahkan aku tidak sampai hati untuk menguap di hadapannya. Maka mataku pun kubuat berair.

            “Kenapa??” matanya menyipit lagi, menggodaku.

            Aku mendelikkan mataku kepadanya. “Hei, sudah kubilang. Jangan tanya ‘kenapa’, kamu tidak perlu buang-buang waktu untuk menemukan jawabannya.”

            “Pasti semua hal beralasan,” Dennis menyanggah. “Entah baik, entah buruk. Yang tersulit dari semua itu adalah mencari tau apa alasannya.”

            “Tentu saja, Dennis. Dan ketahuilah, bukan.. bukan karena kamu sempurna, lantas aku menginginkanmu. Hanya saja, bersamamu aku merasa lebih dari sekedar bahagia.”

            Lagi-lagi, keheningan melanda kami. Bahkan aku bisa merasakan deru nafasnya yang hangat di telingaku, sebelum akhirnya dia merebahkan diri di pangkuanku.

            “Benarkah? Bilanglah, kalau kamu bosan kepadaku. Bilanglah, kalau dicintaiku membebanimu. Maka aku akan pergi, detik itu juga.” Aku benar-benar tidak yakin jika Dennis mengatakan lelucon ini dalam keadaan sadar. Padahal hey, kami sama-sama tau bila ini benar-benar terjadi, tentulah masing-masing kami akan patah hati dengan lebay.

            Aku terdiam. Membiarkan Dennis berceloteh, sedang aku menggenggam tangannya makin erat.

            “Aku tau, aku tidak sepantas itu untukmu, Gal. Mungkin seharusnya dari dulu-dulu kamu meninggalkanku. Tentu saja kan, dengan alasan-alasan yang masuk akal. Dan apabila pada akhirnya kamu memutuskan pergi, aku melepaskanmu. Melepaskan itu bentuk cinta juga. Apa boleh buat? Aku tidak pernah bisa menahanmu lebih lama lagi. Tapi dengan satu syarat, kamu boleh pergi jauh asal berjanji tidak akan terjatuh…” Dennis menggigau lagi, matanya terpejam. Kurasakan, genggamannya makin melemah.

            “Nis, kurasa, kita harus pulang meskipun aku belum bisa menghitung bintang-bintang malam ini.” Ujarku khawatir.

            “Tapi kurasa, aku ingin tertidur di Taman ini, di pangkuanmu seperti ini.” Dennis tetap bersikukuh.

            “Tertidur di Taman ini? Esok pagi, badanmu akan terasa remuk. Lebih nyaman, kamu tidur di ranjangmu yang empuk, Sayang.” Aku belum lelah membujuknya.

            “Gal…” dan Dennis pun belum lelah juga merengek, “Ayo mendongeng! Tentang apa saja. Sampai aku benar-benar terlelap.”

            Aku menarik nafas dalam-dalam. Mengusap keningnya dengan lembut. Dia selalu nampak lebih cantik jika matanya tengah terpenjam seperti ini.

            “Baiklah. Tapi setelah ini, kita harus pulang.” Aku terdiam sejenak, bulu mata Dennis yang bertumpuk manja begitu menggodaku untuk terus menatapnya. “Alkisah, beratus-ratus tahun yang lalu, hiduplah seorang Puteri yang pemurung. Dia selalu bersedih setiap harinya, tidak pernah tersenyum…”

            “Siapa nama puteri itu??” Dennis memotong ceritaku sembari tetap terpejam.

            “Puteri Dennis, namanya.”

“Ih, aku bukan seorang penyedih…” kurasa sebentar lagi, Dennis akan benar-benar terlelap. Bahkan dia mengambil telapak tanganku untuk menjadi penutup sepasang matanya.

            “… Akhirnya, Puteri Dennis dan Gal pun hidup berbahagia selamanya,” aku sengaja meringkas ceritanya agar Dennis menyerah. Aku tidak mau besok mendengar keluhannya tentang badannya yang serasa remuk atau dia jadi puteri tidur sehingga acara kami menonton film akan gagal.

            “Gal, menyanyilah…” bahkan dalam pejamnya, Dennis masih bisa merengek.

            Aku menghela nafas panjang, berusaha untuk tidak mendengus.

            Dennis bobo, Oh.. Dennis bobo. Kalau tidak bobo di gigit nyamuk… Bobo-lah bobo, kasihku sayang…

            “Gal, bagaimana sih rasanya kehilangan?” Dennis menggigau lagi, sembari membetulkan posisi sandaran kepalanya di pangkuanku. “Kalau besok aku hilang, tak lelahkan kamu peluk rindu itu sendirian?”

***

Akhirnya, kami turun juga dari bianglala raksasa yang sukses membuatku mual dan pusing tujuh keliling. Dennis tidak hentinya bergelak menertawakanku. Ketika kami tengah naik bianglala, Dennis menggodaku terus, memaksaku untuk menghabiskan harum manis yang baru saja di belinya dan bahkan mengancamkanku tidak akan turun jika harum manis itu belum habis. Padahal dia tau, aku benar-benar mual. Meski begitu, aku selalu menikmati saat-saat bersamanya. Dan kau tau apa yang spesial dari Dennis, adalah dia mampu membuat kondisi apapun terasa menyenangkan untukku.

            “Gal, kamu tidak bosan seharian terus bersamaku? Kamu tidak bosan bersamaku?? Bahkan seumur hidup??” Dennis kembali bertanya saat dia tengah kugendong di punggung setelah kami selesai menikmati bubur kacang hijau. Aku rasa ini pertanyaan keseratus sekian yang diajukan olehnya. Aku pun tau, Dennis memang suka sekali bertanya. Tapi dia bertanya terus seharian ini. SEHARIAN.

            “Kalau aku bosan, aku sudah melarikan diri sejak tadi darimu. Atau sejak kemarin,” Jawabku santai dan itu sempat membuat keheningan sejenak diantara kami. Jeda yang cukup panjang untuk membuatku menerka-nerka apa yang tengah di pikirkan perempuan yang begitu kusayangi ini.

            “Ohya?” Dennis menggodaku.”Kalau begitu, aku akan membuatmu bosan!” serunya kemudian.

            “Hei, percuma! Lagipula siapa yang mau lari dari perempuan yang untuk melihatnya bahagia aku rela melakukan apapun? Siapa yang mau lari dari perempuan yang membuatku jadi laki-laki yang paling ingin bertahan hidup di dunia ini? Siapa yang mau lari dari perempuan yang paling bisa memelukku seutuhnya kedua setelah Ibuku??” aku sengaja berseru kencang untuk membalas menggodanya. Seketika itu juga, Dennis merangkul leherku semakin erat untuk di jadikan sandaran.

            “Untuk itu, aku berterimakasih banyak!” ujarnya, kemudian membekap mulutku dengan jemarinya seraya tertawa lepas. "Dan kau harus tau, tidak.. seluruh dunia harus tau, aku MENCINTAIMU!" Dennis tiba-tiba mencium pipi kananku, tentu saja dari balik pundakku. Dan lagi-lagi, gerakan spontannya itu sukses membuatku goyah dan hampir terjatuh.

            Dan apa kau tau? Itulah tawa yang selalu aku rindukan.

***

“Gal, menyanyilah…” bahkan dalam pejamnya, Dennis masih bisa merengek.
                              
            Aku menghela nafas panjang, berusaha untuk tidak mendengus.

            Dennis bobo, Oh.. Dennis bobo. Kalau tidak bobo di gigit nyamuk… Bobo-lah bobo, kasihku sayang…

            “Gal, bagaimana sih rasanya kehilangan?” Dennis menggigau lagi, sembari membetulkan posisi sandaran kepalanya di pangkuanku. “Kalau besok aku hilang, tak lelahkan kamu peluk rindu itu sendirian?”

12 Jam Kemudian…

          Dennis tidak pernah lagi terbangun dari tidurnya. Kukira dia sedang bermain drama, walau aku tau dia tidak pernah sebercanda itu. Jantungnya berhenti saat dia tengah tertidur di pangkuanku. Dennis terkena serangan jantung dalam tidurnya, jantungnya berhenti begitu saja tanpa aba-aba.
                                                                   
            Dan di sinilah aku, di pemakamannya.

            “Nis, aku beritau rasanya kehilangan, ternyata remuk.” Aku berbisik lirih, seraya mengusap-usap batu nisannya. “Maafkanlah aku, yang belum bisa menghitung bintang semalam. Tapi kau perlu tau, bahwa dirimu adalah bintangku, pusat dari galaksiku.”

***


Gal, kalau kamu menyuruhku menghitung bintang, aku tidak perlu bersusah payah. Sebab kamu sendiri adalah bintangku, pusat semestaku, Gal. Hanya kamu..Ujar Dennis pada hatinya, sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap di pangkuan pria yang paling dicintainya itu.

"Aku mencintaimu, bintangku. hingga semestaku hanya membilang namamu. setiap saat. setiap waktu." -@mas_aih

NB:

Hei, Gal, Happy Anniv!^^ Maaf ya belum bisa balas sms-mu. Maaf telat juga. Hehe :p
I love you. :*

Unknown

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar