di persembahkan khusus teruntuk Gal.
Sebagai kado, mungkin kamu tidak akan terkejut.
Memang cerpen ini sangat sederhana, tetapi kamu perlu tau satu hal.
Aku membuatnya dengan tulus. :)
Asal ingat saja,
Ketulusan itu mahal. Dan tidak semua orang sedermawaan aku. :p ;p
___
“Gal,
sudah selesai belum menghitung bintangnya?” Dennis bertanya seraya
mengguncang-guncang bahuku, meminta diberi perhatian. “Jadi, ada berapa
bintang, Gal?” rengeknya kemudian.
“Banyak,” jawabku asal. Dennis malah
mencubit pinggangku, membuatku meronta sakit sekaligus geli. “Lho, aku serius.
Memang banyak, tak terhitung. Coba kau lihat sendiri!”
Dennis menengadahkan kepalanya ke
langit, dia tersenyum kepada dirinya sendiri. Matanya membulat, berbinar-binar.
Sesekali ia berdecak kagum.
“Sudah hampir tengah malam, kita
pulang saja ya?” aku mengalihkan pembicaraan. “Tuh.. kamu juga sudah ngantuk
begitu. Bahkan jam tidurmu kelewat dua jam dari sekarang,” tambahku lagi.
Dennis menggeleng. “Pokoknya, kamu
harus berhasil menghitung banyaknya bintang di langit malam ini. Harus!”
katanya merengek. Rengekan yang tidak pernah bisa aku elak.
Berulang kali, aku menangkap basah
Dennis tengah menguap. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap terjaga,
meskipun pada akhirnya matanya lebih banyak memejam. Pada akhirnya juga, ia
menyandarkan pipi kirinya di bahuku.
“Gal, jadi ada berapa bintang?” tanya
Dennis lagi, memecahkan keheningan. Tapi suaranya tidak selatang tadi. Aku
yakin, dia benar-benar sudah mengantuk. Kurasa sebentar lagi dia akan
sepenuhnya tertidur. Dia paling tidak berdaya melawan kantuk.
“Pulang sekarang ya?” Lagi-lagi, aku
mengalihkan pembicaraan. Bukannya aku sudah mengatuk, kedinginan atau lelah
menghitung bintang, tetapi aku benar-benar tidak sampai hati membiarkan
perempuan yang aku cintai setelah Ibuku ini, terlunta-lunta seperti saat ini.
“Tapi aku masih betah…” Dennis seperti
mengigau. “Aku masih sanggup menemanimu, menghitung banyak bintang.”
***
DENNIS
“Selamat
Ulang Tahun, Sayang!!” tiba-tiba sebuah telapak tangan dengan lembut menutup
sepasang mataku, sesaat sempat membuatku gelagapan. Tapi dengan mudahnya, aku
segera menyadari siapa pemilik telapak tangan ini.
“Ugghhh, Gal, lepasin. Sesak nih!” aku
pura-pura meronta, supaya Galih tidak pikir panjang untuk menurut. Walau
akhirnya aku tau, aku tidak perlu sedrama ini.
“Hehe..” Jepret! Senyumnya yang begitu
manis tertangkap oleh mataku, senyuman yang membuatku ikut tersenyum juga. Gal, aku benar-benar bersyukur
mengenalmu, kataku dalam
hati.
“Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun,
Sayang! Segala harapanmu, aku mengaminkan seluruhnya tanpa celah!” Galih
menjabat tanganku, bukan… bukan menjabat, melainkan meremas gemas.
“Karena
hari ini adalah hari ulangtahunmu, aku punya paket khusus untukmu, paket paling
istimewa. Itu juga merupakan salah-satu kado dariku,” tambahnya lagi dengan
penuh semangat. Senyumnya merekah. Senyum pria yang satu ini memang harusnya di
awetkan di kulkas, atau di simpan di sebuah tempat yang paling tidak mungkin di
jangkau semut.
“Hehe, iya aa. Terimakasih banyak. Eh,
tunggu.. tunggu, memangnya paket istimewa apa nih?” tanyaku, menatap Galih
penuh selidik.
“Selama seharian penuh ini, aku tidak
akan bilang “TIDAK” untuk keinginanmu. Jadi apapun inginmu, bilanglah kepadaku.
Akan aku kabulkan, bahkan detik ini juga!” Gal! Kamu keterlaluan, masih sepagi
ini kamu sudah membuatku melambung tinggi.
Tuhan,
pijakkan aku kembali saat kata-kata pria ini membuatku melambung tinggi.
“Serius,
Gal?? Berjanjilah!” kemudian, Galih merekatkan kelingkingnya dengan
kelingkingku.
“Aku
janji! Paket ini sudah berlaku, mulai detik ini juga.” Galih berlagak sok keren
saat mengatakannya. “Jadi, apa keinginanmu yang pertama?”
Aku
tidak menjawab, melainkan menarik tangannya untuk segera meninggalkan taman
ini.
Tanpa
genggaman ini, apa jadinya kita?
***
Sepanjang
hari ini Dennis bertingkah sangat aneh, kalau aku perhatikan. Setelah
menyaksikan senja di pantai tadi, dia bilang ingin ditemani ke pasar malam. Di
sana, dia membeli banyak sekali harum manis sebelum kami naik bianglala
raksasa.
“Hei, untuk apa beli harum manis
sebanyak ini? Siapa yang akan menghabisnya coba??” aku mendelikkan mataku
kepadanya, memprotes.
“Jangan banyak tanya, seharusnya kamu
membantuku membawanya. Tenang, kamu kebagian jatah kok.” Dennis menjawab dengan
santai.
***
DENNIS
“Hei,
Dennis! Jangan melamun melulu.” Suara Galih memecahkan hening yang sedang di
cipta kepalaku. Aku tersenyum enggan, agak merasa terganggu. Walau ini
sebenarnya bukan salahnya.
“Jangan melamun melulu ah, mengabaikan
aku begini.” Katanya lagi, seraya menyodorkan es degan yang kupesan tadi.
“Gal, apa kamu mencintaiku?” aku
bertanya seraya menyandarkan kepalaku di bahunya. Untuk sesaat, Galih nampak
tertegun.
“Aku sangat mencintaimu. Bahkan jika
ada kata di atas sangat, aku akan memilihnya detik ini juga,” Galih menatap
mataku lekat-lekat. Aku berani bersumpah itu adalah mata terindah yang pernah
menatapku.
“Kenapa Gal??”
“Hei, aku mencintaimu. Semua terjadi
begitu saja. Mencintaimu bukan bagian dari rencanaku. Dan aku tidak perlu banyak
alasan untuk mencintaimu. Aku mencintaimu saja!” serunya.
“Benarkah??” aku menyipitkan mataku
menggodanya.
“Kau tau kan, aku paling tidak suka
bicara omongkosong,” Galih tersenyum kepadaku, tatapannya masih selekat tadi.
Itulah mata, yang dihadapannya aku selalu ingin ada.
“Yayaya, aku tau. Tapi, kenapa kamu
tidak jawab, ‘Apa aku pernah
sedrama ini, Sayang? Kamu adalah segalanya untukku,’ Huhh, selalu saja kamu menyia-nyiakan
kesempatan menggombal yang aku berikan. Eh, tunggu… sejak kapan kamu pensiun
menggombal? Hah?” godaku, seraya mengacak-acak rambut gondrongnya.
“Eh, memangnya sejak kapan kamu suka
di gombalin?” Galih memprotes. Ia mencubit pipiku dengan gemas.
Mendengar jawabannya lalu aku pun
tertawa. Galih, surat terbuka dari Tuhan untuk kebahagiaanku, kekasihku. Dia
tidak seperti kebanyakan pria-pria lain yang murah gombal, hanya untuk sekedar
mendapat nilai lebih di mataku.
“Gal, bagaimana ya caranya menjadi
seperti senja?” aku meremas tangan Galih, memastikannya menyimak pertanyaanku.
“Maksudmu?” Sudah kuduga, Galih akan
mengerutkan kening.
“Menjadi seperti senja, bagaimana
meski dia tidak selalu nampak di depan mata, tetapi warnanya melekat di ingatan
manusia sepanjang usia.” Aku memalingkan wajah darinya, kembali memandang ke
ufuk barat. Senja yang indah.
“Terserahmu, deh,” Galih mengusap
rambutku, “Asal jangan jadi yang tidak aku suka.”
“Apa yang tidak kamu suka, itu
pantangan buatku! Mana mungkin sampai hati untuk sekedar mengecewakanmu,” aku
menyenggolnya. Gerakkan spontanku sukses membuat Galih kehilangan keseimbangan
sesaat, dan aku begitu menikmatinya.
“Asal kau tau, Nis. Kamu beruntung,
kenapa? Karena aku mencintaimu tidak tanggung-tanggung!” Galih sengaja berseru
lantang, menatapku penuh arti. Mendengarnya, spontan aku mencubit pinggangnya
hingga membuat Galih meringis geli.
Indahnya senja bukan perihal di
mata kita merekamnya, tetapi perihal dengan siapa kita merekamnya. Kamu ingat
senja itu, Gal?
***
Ini
sudah terlalu larut untuk masih duduk di Taman. Pukul 01. 45 dan aku masih
menghitung bintang. Sejujurnya, ini lebih membuatku pusing ketimbang naik
bianglala. Begitu banyak bintang yang bertabur disana-sini, sempat membuatku
menggerutu dalam hati.
“Pulang yukk?” aku belum lelah merajuk
untuk pulang. Seketika Dennis terjaga, membuka matanya selebar mungkin. Ia
menggeleng lemah.
Aku menghela nafas panjang. Ini memang
salahku, seharusnya tidak perlu ada janji untuk tidak akan berkata ‘tidak’
seharian penuh. Aku menarik kepalanya untuk disandarkan di bahuku, mengusap
rambutnya yang selalu beraroma teh hijau, mencoba menghirupnya dan seketika aku
pun selalu ingin menyayanginya lebih. Cinta seajaib ini.
“Jangan terlalu memaksakan dirimu,
kalau mengantuk ya pejamkan matamu. Tidurlah, jangan sampai kamu jatuh sakit.”
Dennis berucap hangat di telingaku. Padahal hey, aku yang seharusnya mengatakan
ini.
“Kalau aku memejamkan mata, bagaimana
aku bisa memandangmu?” aku menggenggam tangannya, kurasa Dennis tertegun akan
jawabanku. “Tenanglah, aku disini terjaga. Menjagamu.”
“Lewat foto kan bisa, kita telah
berfoto bersama beratus kali.” Dennis kembali mengacak-acak rambutku seraya
tertawa lepas.
“Yaya, tapi memandangmu langsung itu
lebih membahagiakan.”
“Kenapa??”
“Jangan tanya kenapa,” aku mencoba
menahan rasa kantuk yang terlalu ini. Bahkan aku tidak sampai hati untuk
menguap di hadapannya. Maka mataku pun kubuat berair.
“Kenapa??” matanya menyipit lagi,
menggodaku.
Aku mendelikkan mataku kepadanya.
“Hei, sudah kubilang. Jangan tanya ‘kenapa’, kamu tidak perlu buang-buang waktu
untuk menemukan jawabannya.”
“Pasti semua hal beralasan,” Dennis
menyanggah. “Entah baik, entah buruk. Yang tersulit dari semua itu adalah
mencari tau apa alasannya.”
“Tentu saja, Dennis. Dan ketahuilah,
bukan.. bukan karena kamu sempurna, lantas aku menginginkanmu. Hanya saja,
bersamamu aku merasa lebih dari sekedar bahagia.”
Lagi-lagi, keheningan melanda kami.
Bahkan aku bisa merasakan deru nafasnya yang hangat di telingaku, sebelum
akhirnya dia merebahkan diri di pangkuanku.
“Benarkah? Bilanglah, kalau kamu bosan
kepadaku. Bilanglah, kalau dicintaiku membebanimu. Maka aku akan pergi, detik
itu juga.” Aku benar-benar tidak yakin jika Dennis mengatakan lelucon ini dalam
keadaan sadar. Padahal hey, kami sama-sama tau bila ini benar-benar terjadi,
tentulah masing-masing kami akan patah hati dengan lebay.
Aku terdiam. Membiarkan Dennis
berceloteh, sedang aku menggenggam tangannya makin erat.
“Aku tau, aku tidak sepantas itu
untukmu, Gal. Mungkin seharusnya dari dulu-dulu kamu meninggalkanku. Tentu saja
kan, dengan alasan-alasan yang masuk akal. Dan apabila pada akhirnya kamu
memutuskan pergi, aku melepaskanmu. Melepaskan itu bentuk cinta juga. Apa boleh
buat? Aku tidak pernah bisa menahanmu lebih lama lagi. Tapi dengan satu syarat,
kamu boleh pergi jauh asal berjanji tidak akan terjatuh…” Dennis menggigau lagi,
matanya terpejam. Kurasakan, genggamannya makin melemah.
“Nis, kurasa, kita harus pulang
meskipun aku belum bisa menghitung bintang-bintang malam ini.” Ujarku khawatir.
“Tapi kurasa, aku ingin tertidur di
Taman ini, di pangkuanmu seperti ini.” Dennis tetap bersikukuh.
“Tertidur di Taman ini? Esok pagi,
badanmu akan terasa remuk. Lebih nyaman, kamu tidur di ranjangmu yang empuk,
Sayang.” Aku belum lelah membujuknya.
“Gal…” dan Dennis pun belum lelah juga
merengek, “Ayo mendongeng! Tentang apa saja. Sampai aku benar-benar terlelap.”
Aku menarik nafas dalam-dalam.
Mengusap keningnya dengan lembut. Dia selalu nampak lebih cantik jika matanya
tengah terpenjam seperti ini.
“Baiklah. Tapi setelah ini, kita harus
pulang.” Aku terdiam sejenak, bulu mata Dennis yang bertumpuk manja begitu
menggodaku untuk terus menatapnya. “Alkisah, beratus-ratus tahun yang lalu,
hiduplah seorang Puteri yang pemurung. Dia selalu bersedih setiap harinya,
tidak pernah tersenyum…”
“Siapa nama puteri itu??” Dennis
memotong ceritaku sembari tetap terpejam.
“Puteri Dennis, namanya.”
“Ih,
aku bukan seorang penyedih…” kurasa sebentar lagi, Dennis akan benar-benar
terlelap. Bahkan dia mengambil telapak tanganku untuk menjadi penutup sepasang
matanya.
“… Akhirnya, Puteri Dennis dan Gal pun
hidup berbahagia selamanya,” aku sengaja meringkas ceritanya agar Dennis
menyerah. Aku tidak mau besok mendengar keluhannya tentang badannya yang serasa
remuk atau dia jadi puteri tidur sehingga acara kami menonton film akan gagal.
“Gal, menyanyilah…” bahkan dalam
pejamnya, Dennis masih bisa merengek.
Aku menghela nafas panjang, berusaha
untuk tidak mendengus.
“Dennis bobo, Oh.. Dennis bobo.
Kalau tidak bobo di gigit nyamuk… Bobo-lah bobo, kasihku sayang…”
“Gal, bagaimana sih rasanya
kehilangan?” Dennis menggigau lagi, sembari membetulkan posisi sandaran
kepalanya di pangkuanku. “Kalau besok aku hilang, tak lelahkan kamu peluk rindu
itu sendirian?”
***
Akhirnya,
kami turun juga dari bianglala raksasa yang sukses membuatku mual dan pusing
tujuh keliling. Dennis tidak hentinya bergelak menertawakanku. Ketika kami
tengah naik bianglala, Dennis menggodaku terus, memaksaku untuk menghabiskan
harum manis yang baru saja di belinya dan bahkan mengancamkanku tidak akan
turun jika harum manis itu belum habis. Padahal dia tau, aku benar-benar mual. Meski
begitu, aku selalu menikmati saat-saat bersamanya. Dan kau tau apa yang spesial
dari Dennis, adalah dia mampu membuat kondisi apapun terasa menyenangkan
untukku.
“Gal, kamu tidak bosan seharian terus
bersamaku? Kamu tidak bosan bersamaku?? Bahkan seumur hidup??” Dennis kembali
bertanya saat dia tengah kugendong di punggung setelah kami selesai menikmati
bubur kacang hijau. Aku rasa ini pertanyaan keseratus sekian yang diajukan
olehnya. Aku pun tau, Dennis memang suka sekali bertanya. Tapi dia bertanya
terus seharian ini. SEHARIAN.
“Kalau aku bosan, aku sudah melarikan
diri sejak tadi darimu. Atau sejak kemarin,” Jawabku santai dan itu sempat
membuat keheningan sejenak diantara kami. Jeda yang cukup panjang untuk
membuatku menerka-nerka apa yang tengah di pikirkan perempuan yang begitu
kusayangi ini.
“Ohya?” Dennis menggodaku.”Kalau
begitu, aku akan membuatmu bosan!” serunya kemudian.
“Hei, percuma! Lagipula siapa yang mau
lari dari perempuan yang untuk melihatnya bahagia aku rela melakukan apapun?
Siapa yang mau lari dari perempuan yang membuatku jadi laki-laki yang paling
ingin bertahan hidup di dunia ini? Siapa yang mau lari dari perempuan yang
paling bisa memelukku seutuhnya kedua setelah Ibuku??” aku sengaja berseru
kencang untuk membalas menggodanya. Seketika itu juga, Dennis merangkul leherku
semakin erat untuk di jadikan sandaran.
“Untuk itu, aku berterimakasih
banyak!” ujarnya, kemudian membekap mulutku dengan jemarinya seraya tertawa
lepas. "Dan kau harus tau, tidak.. seluruh dunia harus tau, aku
MENCINTAIMU!" Dennis tiba-tiba mencium pipi kananku, tentu saja dari balik
pundakku. Dan lagi-lagi, gerakan spontannya itu sukses membuatku goyah dan
hampir terjatuh.
Dan apa kau tau? Itulah tawa yang
selalu aku rindukan.
***
“Gal,
menyanyilah…” bahkan dalam pejamnya, Dennis masih bisa merengek.
Aku menghela nafas panjang, berusaha
untuk tidak mendengus.
“Dennis bobo, Oh.. Dennis bobo.
Kalau tidak bobo di gigit nyamuk… Bobo-lah bobo, kasihku sayang…”
“Gal, bagaimana sih rasanya
kehilangan?” Dennis menggigau lagi, sembari membetulkan posisi sandaran
kepalanya di pangkuanku. “Kalau besok aku hilang, tak lelahkan kamu peluk rindu
itu sendirian?”
12
Jam Kemudian…
Dennis tidak pernah
lagi terbangun dari tidurnya. Kukira dia sedang bermain drama, walau aku tau
dia tidak pernah sebercanda itu. Jantungnya berhenti saat dia tengah tertidur
di pangkuanku. Dennis terkena serangan jantung dalam tidurnya, jantungnya
berhenti begitu saja tanpa aba-aba.
Dan di sinilah aku, di pemakamannya.
“Nis, aku beritau rasanya kehilangan,
ternyata remuk.” Aku berbisik lirih, seraya mengusap-usap batu nisannya. “Maafkanlah
aku, yang belum bisa menghitung bintang semalam. Tapi kau perlu tau, bahwa
dirimu adalah bintangku, pusat dari galaksiku.”
***
“Gal,
kalau kamu menyuruhku menghitung bintang, aku tidak perlu bersusah payah. Sebab
kamu sendiri adalah bintangku, pusat semestaku, Gal. Hanya kamu..”Ujar Dennis pada hatinya, sebelum
akhirnya ia benar-benar terlelap di pangkuan pria yang paling dicintainya itu.
"Aku mencintaimu, bintangku. hingga semestaku hanya membilang namamu. setiap saat. setiap waktu." -@mas_aih
NB:
Hei, Gal, Happy Anniv!^^ Maaf ya belum bisa balas sms-mu. Maaf telat juga. Hehe :p
I love you. :*


0 komentar:
Posting Komentar