Ketika bersedih, aku
tidak akan banyak bicara. Tidak akan bertanya banyak ataupun dapat
tertawa lepas. Tapi bagaimanapun juga, bibir ini tetap akan menyunggingkan
seulas senyum kepadamu, meski aku rasa kamu tidak seperlu itu melihatnya,
apapun yang tengah kurasakan. Bukan berarti saat itu aku benar sepenuhnya
baik-baik saja. Dan aku tidak terlalu berharap kamu mau mengerti itu. Setidaknya
kau bersedia menepi, kadang-kadang untuk waktu yang lama aku butuh waktu
sendiri untuk tenggelam dalam hening, juga seulas senyummu supaya aku bisa
merasakan sebuah ke-baik-baik saja-an.
Bukan berarti aku
mengabaikanmu, aku pun ingin kamu bisa selalu ada untukku dan aku selalu dapat
ada untukmu. Sesekali kamu hanya perlu diam, bukan berarti kamu berhenti
mempedulikan aku, melainkan mengalah untukku dengan merendam egomu sendiri
untuk dimengerti dan bersedia mendengarkan tanpa menginginkan didengarkan
kembali. Ada kalanya aku hanya perlu kamu peluk dalam diam tanpa kamu
mengatakan yang seperti ini, ‘Kamu
seharusnya begini-begitu..’ atau mendengar janjimu yang bahkan aku ragu
kamu akan mampu menepatinya atau tidak. Kau tau kan, aku tidak suka dengan
seseorang yang bahkan tidak mampu menanggung konsekuen dari bicaranya sendiri.
Sedang aku bukanlah
seseorang yang pandai marah, biasanya aku akan bertingkah sedikit menyebalkan
sampai seseorang yang mengecewakanku berbalik kesal atau mungkin marah hingga
akhirnya memutuskan pergi dengan sendirinya. Dan aku bukanlah seseorang yang
betah mempertahankan amarah, aku tidak suka dengan situasi semacam pertengkaran
dan sebisa mungkin aku menghindarinya. Siapapun itu, aku pasti memaafkannya. Memang
sulit, tapi apalah hak-ku untuk tidak memaafkan sedang Tuhan Maha Pemaaf. Namun
tidak bisa dipungkiri, ada kalanya kamu pun lelah memaafkan.
Dan ada kalanya, aku
pun lelah telah terus menerus sok tegar dihadapanmu. Kau tau, sebenarnya
kelemahan terbesar kita adalah selalu ingin terlihat kuat didepan mereka yang
kita sayang. Sesekali aku ingin diberi ruang untuk menjadi labil dan cengeng.
Aku pun ingin kamu beri ruang untuk menangis tanpa perlu aku minta. Ingin
dipinjami bahu olehmu, disana kamu akan membiarkanku meraung sepuas yang aku
mau. Sedang tanganmu mengusap-usap lembut rambutku seraya meniup-niupkan poniku
rendah, seakan tau – terlihat asap mengepul-ngepul diatasnya. Kamu pun tau saat
itu, aku hanya ingin didengarkan tanpa ingin mendengarkan kembali. Ingin di
jawab iya atas segala keinginanya. Tidak
ingin melakukan apapun selain menyalahkan oranglain. Hanya ingin menangis
sebanyak-banyaknya. Dan setelahnya kamu rayu dan diberi hadiah.
Sedang kamu yang paling
tau caranya menerbitkan kembali senyum dibibirku. Kamu akan merengkuh wajahku
dan menatapku lekat, seakan kau tau – bahwa tatapanmu tidak pernah gagal
menyejukkan hatiku. Kamu bilang, “Kamu gadis manisku, berhentilah menangis. Aku
akan membelikanmu es krim sebanyak yang kamu mau dan kita akan memakannya
bersama-sama. Mau kan?”
Aku
ingin diberi kesempatan melakukan hal-hal seperti itu kelak.


0 komentar:
Posting Komentar