Pada
akhirnya, aku lagi yang harus menanggung perasaan ini sendirian ketika
kamu berhenti peduli dan memilih pergi. Harapan, seperti menjanjikan
sesuatu tapi menyimpan ketidakpastian, semu tapi seperti nyata dan
sebaliknya. Mendekat
dan menjauh tanpa aturan, membutuhkan waktu yang tak terbilang untuk
pertautan dan perpisahan. Kita belum sempat saling memiliki tapi sudah
harus merelakan perpisahan. Waktu hampir saja merekatkan jemari kita
agar saling menggenggam. Kebohongan membiru-hitamkan pertemuan dan
menjauhkan titik harapan. Yang kamu janjikan, yang aku percayai.
Ternyata hanya janji yang mampu kau janjikan dan tidak mampu kau penuhi.
Semua yang telah kita jalani bukan buang-buang waktu apalagi sia-sia.
Setiap detiknya berharga dan bermakna. Melekang indah pada sejarah meski
tidak saling memiliki. Tidak saling memiliki bukan alasan untuk tidak
saling mendoakan bukan? kamu yang tidak aku miliki selalu menjadi
perbincangan dengan tuhan, aku melindungimu dengan doa meski tidak
saling memiliki. Aku tidak ingin sendirian, dan terlupakan. Aku yakin
kamu juga begitu. Mari saling memiliki, dan menyatulah kita. Di jalan
yang sama, kita belum berjalan berdampingan. Mungkin besok atau lusa,
jemari kita menggenggam erat seiring kembalinya kamu kesini. Kapanpun
itu adalah waktu untuk melipatgandakan harapan yang dari awal tidak
mengingkari keakuan rasa itu. Takut kehilangan yang bukan aku miliki
adalah kata lain dari aku terlalu mengharapkanmu. Aku takut kau
menggenggam jemari wanita lain yang sewaktu-waktu akan ia lepaskan.
Masih aku ingat saat itu, kau menawarkan sepaket janji-janji manis
dengan tutur kata yang mampu membuatku begitu percaya. Tidak disangka,
harapan itu hilang seiring kepergianmu. Kamu yang tidak sempat aku
miliki ternyata mampu menggoreskan luka. Seperti yang sudah-sudah,
harapan itu dulunya ada ketika hampir digenggam menghilang begitu saja
tanpa permisi. Belum sempat dimiliki saja sudah pergi meninggalkan,
apalagi ketika sudah dimiliki?. Kecewa sudah pasti tapi entah kenapa aku
masih memegang teguh harapan itu, harapan yang sebenarnya sudah benar
tidak akan menjadi nyata. Kita sama-sama sadar, akar pertautan yang
menunjang itu telah menancap. Sekejap tersadar, akar itu kau cabut.
Mungkinkah menanamnya sekali lagi? atau biarkan pohon itu rebah diatas
tanah? kita berpisah, saling mencari tunas baru untuk disemaikan lagi.
Memang tidak bisa memilih jatuh cinta pada siapa, bahkan pada kamu yang
memberikan harapan palsu sekalipun. Akhir yang kupilih tidak berpihak
pada rasa saling memiliki. Kebenaran menjadi lebih rumit ketika aku
sadar perasaan itu begitu kokoh ditempatnya; berat pindah ke lain hati.
Kamu yang tidak sempat dimiliki adalah kamu yang begitu membuatku sulit
pindah ke lain hati. Kamu, yang tidak sempat dimiliki.
Unknown
DeveloperCras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.


0 komentar:
Posting Komentar