"Namanya Dennis."
"Namanya Dennis?" Cahya mengulang perkataan Lintang. Lintang tersenyum membenarkan. "Dennis.. Dennis.." Cahya tak henti-hentinya bergumam menyebutkan nama Dennis, sehingga membuat Lintang agak kesal.
"Kalau tak ada yang perlu ditanyakan lagi, aku sedang terburu-buru." ketus Lintang. Menyadari kekesalan Lintang, Cahya segera mengucapkan terimakasih pada Lintang. Aku juga berterimakasih karena telah punya teman baru sepertimu, jawab Lintang tanpa menyunggingkan senyum pada Cahya. Kemudian, ia segera berlalu meninggalkan Cahya.
"Buang-buang waktuku saja.." gumam Lintang. Ia berhenti melangkah untuk menengok Cahya, namun tidak ada seorangpun. Lintang segera melanjutkan langkahnya.
___
Ini adalah hari pertama bagi Cahya, bersekolah disekolah yang baru. Pagi-pagi sekali, ia bangun dan mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin. Setelah semuanya siap, Cahya berangkat sekolah dengan harapan ia satu sekolah dengan Dennis dan tidak satu sekolah dengan Ranz beserta kawanannya.
___
"Dennis! Dennis!"
Ranz menyerukan nama Dennis. Haspi segera memberitahu Dennis, bahwa Ranz sudah datang menjemput. Dennis mengiyakan dan menyuruh Ranz untuk menunggu sebentar. Haspi menyampaikannya pada Ranz.
Ranz menunggu kedatangan Dennis dengan sabar. Tak lama kemudian, Dennis menghampiri Ranz. Ranz begitu terpana, melihat Dennis hari ini begitu anggun. Ia tak henti-hentinya tersenyum pada Dennis.
Ranz menunggu kedatangan Dennis dengan sabar. Tak lama kemudian, Dennis menghampiri Ranz. Ranz begitu terpana, melihat Dennis hari ini begitu anggun. Ia tak henti-hentinya tersenyum pada Dennis.
"Tak biasanya, kau mau menjemputku. Sepagi ini pula," kata Dennis, tersenyum senang pada Ranz.
"Itu kulakukan karena kau lambat. Lihat, bahkan kau memintaku menunggu selama tujuh menit." Ranz pura-pura mengomel. Mendapat omelan Ranz, Dennis hanya menanggapi dengan tertawa kecil. Kemudian, Dennis segera duduk menyamping, membonceng Ranz.
"Siap?"
"Janji, jangan kebut."
"Janji."
"Siap Jendral!"
Ranz mulai menggayuh sepedanya dengan semangat. Sesekali selama perjalanan, Ranz dengan iseng menambah kecepatannya seketika, membuat Dennis terkejut dan mengikatkan tangannya lebih erat pada pinggang Ranz. Menyadari ulah iseng Ranz, Dennis segera merenggangkan ikatan tangannya dan mengomel pada Ranz. Mendengar celotehan Dennis, Ranz cuma tertawa dan memberi alasan bahwa jika tidak kebut maka akan sampai disekolah dengan terlambat.
Sepanjang perjalanan ke sekolah, Ranz dan Dennis tak henti-hentinya berdebat, bercanda atau saling meledek satu sama lain. Kadang-kadang, Dennis menggelitik pinggang Ranz sehingga Ranz goyah. Dennis tertawa melihat tingkah Ranz. Ranz kemudian membalas, dengan mengebutkan laju sepedannya.
Cittttt...
Sebuah mobil, hampir menabrak ia dan Dennis. Ranz dengan panik, mengerem mendadak lajunya yang ngebut membuatnya kehilangan kendali dan kehilangan keseimbangan mengakibatkan Ia dan Dennis jatuh.
Cahya, yang berada didalam mobil tersebut, bertanya pada sopirnya apa yang terjadi. Sopirnya menjawab dengan gugup, bahwa ia hampir menabrak seseorang. Cahya panik dan segera keluar mobil. Alangkah terkejutnya Cahya, menyaksikan Ranz dengan susahpayah membantu Dennis untuk bangkit. Ranz menanyakan bagaimana keadaan Dennis apakah ada luka atau merasa sakit. Dennis berkata ia tidak papa dan bertanya balik bagaimana keadaan Ranz sendiri. Ranz juga memberikan jawaban yang sama pada Dennis. Menyadari ada Cahya, Ranz segera menghampiri Cahya dengan penuh kemarahan lalu mengomel pada Cahya tentang sopirnya yang tak becus.
"Apa sopirmu gila atau kau? Kalian benar-benar gila, tak apa jika hanya aku yang celaka. Tapi kau juga mencelakakan Dennis! Bagaimana mungkin aku berdiam diri?" omel Ranz. Dennis menepuk bahu Ranz, berusaha menenangkan Ranz.
Cahya hanya berkata maaf atas kecerobohan sopirnya.
Lagi-lagi, Dennis melerai mereka.
"Ranz, sudahlah. Lagipula aku hanya terjatuh dan tidak terluka sama-sekali. Hanya seragamku sedikit kotor." sela Dennis.
Ranz mengabaikan Dennis. Ia terus mencarci Cahya. Cahya hanya diam mendengarkan.
"Hentikan perkelahian ini!" seru Dennis.
Cahya, yang berada didalam mobil tersebut, bertanya pada sopirnya apa yang terjadi. Sopirnya menjawab dengan gugup, bahwa ia hampir menabrak seseorang. Cahya panik dan segera keluar mobil. Alangkah terkejutnya Cahya, menyaksikan Ranz dengan susahpayah membantu Dennis untuk bangkit. Ranz menanyakan bagaimana keadaan Dennis apakah ada luka atau merasa sakit. Dennis berkata ia tidak papa dan bertanya balik bagaimana keadaan Ranz sendiri. Ranz juga memberikan jawaban yang sama pada Dennis. Menyadari ada Cahya, Ranz segera menghampiri Cahya dengan penuh kemarahan lalu mengomel pada Cahya tentang sopirnya yang tak becus.
"Apa sopirmu gila atau kau? Kalian benar-benar gila, tak apa jika hanya aku yang celaka. Tapi kau juga mencelakakan Dennis! Bagaimana mungkin aku berdiam diri?" omel Ranz. Dennis menepuk bahu Ranz, berusaha menenangkan Ranz.
Cahya hanya berkata maaf atas kecerobohan sopirnya.
Lagi-lagi, Dennis melerai mereka.
"Ranz, sudahlah. Lagipula aku hanya terjatuh dan tidak terluka sama-sekali. Hanya seragamku sedikit kotor." sela Dennis.
Ranz mengabaikan Dennis. Ia terus mencarci Cahya. Cahya hanya diam mendengarkan.
"Hentikan perkelahian ini!" seru Dennis.
Ranz tak tahan lagi, tangannya telah mengepal dan bersiap menonjok wajah Cahya. Namun cepat-cepat, Dennis mencegat dan berkata kita bisa terlambat ke sekolah dan mendapat hukuman. Ranz tak berdaya dihadapan Dennis, ia menurut. Ia segera membenarkan kembali posisi sepedanya. Dennis berpamitan pada Cahya dan mengingatkan pada Cahya dan sopirnya untuk lebih hati-hati lagi. Cahya tersenyum mengiyakan perkataan Dennis. Kemudian Dennis kembali membonceng Ranz, dan sesaat kemudian lenyap dipenglihatan Cahya. Ia segera kembali masuk ke dalam mobil dan mengatakan pada sopirnya untuk tidak kebut dan pelan-pelan saja.
Mobil Cahya melewati Ranz dan Dennis, Cahya melambaikan tangan dengan sedih pada Dennis meski ia sendiri tak benar-benar yakin Dennis melihatnya. Melihat Dennis dibonceng Ranz, mendadak timbul rasa iri dalam benak Cahya. Ia ingin berada diposisi Ranz saat ini.
Dennis tak hentinya memberi semangat pada Ranz untuk dapat mengejar mobil Cahya. Ranz tersugesti, Ia menggayuh sepeda lebih semangat. Dennis tersenyum bahagia, tanpa menyadari bahwa Cahya memandang sedih mereka dari balik mobilnya.
___
"Ah, akhirnya sampai juga." Ranz berkata dengan penuh bahagia. Ia menuntun sepedannya, begitu melewati gerbang sekolah.
"Tunggu disini." pinta Ranz pada Dennis. Ranz berkata, tak akan lama memarkirkan sepedanya. Dennis mengiyakan, ia menunggu. Ranz kembali lebih cepat dari yang Dennis perkirakan. Ia segera menyodorkan botol pada Ranz. Ranz bertanya, apa itu. Dennis menjawab, Itu adalah Jus Jambu kesukaan Ranz dan Dennis berkata membuat Ranz menunggu tadi karena Ia sedang membuat Jus Jambu. Ranz berterimakasih banyak pada Dennis.
Mereka berjalan menelusuri koridor. Seraya melangkah, Ranz berkata Jus buatan Dennis adalah Jus yang paling enak. Dennis merona dipuji oleh Ranz dan berkata Jus yang dibuatnya adalah bayaran untuk peluh Ranz karena mengantarnya. Ranz tersenyum dan berkata tidak perlu bayaran. Dennis tertawa riang. Tanpa Ranz dan Dennis sadari, agak jauh dibelakang mereka, Lintang berjalan dengan wajah murung. Sesekali merengut, memandang Ranz dan Dennis penuh keirian.
___
Kring... Kring....
Bel berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai. Anak-anaknya yang berada diluar kelas berhamburan masuk ke kelas mereka masing-masing.
___
VIII-F
"Selamat Pagi Anak-Anak Sekalian!"
"Pagi bu!"
"Sebelum memulai pelajaran, kalian akan mendapat teman baru."
Seketika, suasana kelas menjadi ramai penuh bisak-bisik.
"Teman baru? Ugghh," gumam Lintang tak senang, ia memilih melanjutkan menyimak novelnya dibanding mendengar penjelasan selanjutnya mengenai 'teman barunya'.
"Ayo, silahkan masuk!"
Semua anak kecuali Lintang dengan tegang memerhatikan pintu kelas.
Seseorang yang disebut 'teman baru' mereka masuk ke dalam kelas seraya tak hentinya menyungging senyum.
"Lintang, ayo lihat! Teman baru kita bahkan lebih tampan dari Ranz." Tessa menyenggol sikut Lintang, setengah berbisik. Lintang melirik sinis pada Tessa ketika ia menyebutkan nama Ranz. Cepat-cepat Tessa mengklarifikasi. "Ngg... dia cukup tampan. Coba lihat dia, kau pasti akan langsung menyukainya."tukas Tessa, matanya menujuk.
Lintang menengok arah yang ditunjukan Tessa. Didepan kelas, seseorang yang tak asing berdiri sedang mempernalkan diri. Lintang cuma tersenyum tipis lalu kembali menyimak novelnya. Tessa bertanya, mengapa Lintang tidak antusias seperti ini. Lintang menjawab, ia sudah mengenalnya jadi untuk apa antusias dengan sesi perkenalan ini. Tessa semakin penasaran, ia mengajukan pertanyaan bagaimana mereka bisa saling kenal. Tapi Lintang menjawab dengan dingin, bahwa itu sama sekali tak penting untuk diberitahu. Tessa merengut dan kembali antusias menyaksikan Cahya memperkenalkan diri.
___
Kring... Kring... Kring...
Bel Istirahat berbunyi. Dengan serempak, hampir seluruh anak dari setiap kelas disekolah, bersama-sama hambur dari ruang kelas masing-masing tak terkecuali Lintang dan Tessa. Mereka berjalan menuju kantin, namun pandangan Lintang tetap fokus pada novelnya, agaknya Tessa sudah memaklumi Lintang.
Begitu sampai dikantin, Tessa bertanya Lintang ingin pesan menu apa. Milkshake Vanila, jawab Lintang. Tessa kemudian menyuruh Lintang untuk segera mencari meja makan untuk mereka dan memintanya menunggu selama ia memesan. Lintang mengiyakan. Ia segera dengan mudah mendapatkan meja, ia pun duduk dan kembali asyik dengan novelnya. Sesaat, Tessa datang membawa menu pesanannya dan Lintang, mereka menikmati menu mereka masing-masing.
Diwaktu yang bersamaan, Cahya telah membawa menu makanan yang dipesannya namun ia bingung akan duduk dimana karena setiap meja sudah dipakai. Matanya mencari-cari sosok Dennis namun yang ia lihat Lintang. Ia tersenyum kemudian menghampiri Lintang dan bertanya pada Lintang apakah boleh berbagi meja. Sebelum Lintang menjawab, Tessa lebih dulu menjawab bahwa tentu saja boleh. Lintang melirik tajam pada Tessa namun Tessa hanya tersenyum memelas. Mau tak mau, akhirnya mereka bertiga melingkar disatu meja seraya menghabiskan menu masing-masing.
Tessa memulai percakapan dengan bertanya banyak hal pada Cahya. Cahya menjawab dengan antusias. Sementara Lintang acuh tak acuh. Sampai akhirnya, Cahya mengajukan pertanyaan yang membuat Lintang terkejut setengah hidup dan tersedak.
"Apa kalian tau dimana kelas Dennis?!"
Secara bersamaan, Lintang dan Tessa saling menoleh dan bertatapan. Wajah mereka, pucat.
Hening.
"...."
Lintang segera mengalihkan pandangan pada Cahya. Cahya terkejut, mendapati mata Lintang berkaca-kaca. Segera, Lintang menyeka air matanya dan berdiri. Ia berkata, tiba-tiba merasa mual dan tidak bernafsu. Lintang berlalu begitu saja meninggalkan kantin, membuat Cahya kebingungan. Cahya bertanya kepada Tessa, apa yang terjadi. Tessa menjawab dengan gugup bahwa pasti ada kesalahpahaman kemudian pergi untuk menyusul Lintang. Sebelumnya Tessa berpesan pada Cahya, untuk menjaga meja mereka. Cahya mengiyakan dengan bingung. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.
___
Lintang terus berlari tanpa peduli arah. Airmata tak kuasa untuk Lintang bendung. Beberapa meter dibelakangnya, Tessa mengejar Lintang terengah-engah.
Bukk!
Tanpa sengaja, Lintang menabrak Dennis.
Lintang tak peduli pada Dennis yang terjatuh. Ia segera ingin berlalu, namun cepat-cepat Dennis menarik tangannya untuk mencegat Lintang. Dennis begitu terkejut mendapati wajah Lintang basah airmata dan bertanya ada apa.
"Tidak usah pura-pura peduli!" Jari telunjuk Lintang menunjuk pundak Dennis. Tatapannya penuh amarah dan begitu menusuk bagi Dennis. Dennis terkejut setengah mati atas perkataan Lintang yang begitu menusuk. Ia melihat kebencian pada tatapan Lintang kepadanya.
Belum sempat Dennis menyangga, Lintang berteriak dengan keras dan sontak membuat perhatian tertuju pada mereka. Lintang tidak peduli dan ia berkata pada Dennis untuk menghentikan drama ini secepatnya dan Lintang sudah merasa sangat muak. Dennis bertanya apa maksud Lintang. Namun Lintang menjawab dengan sinis bahwa Dennis seharusnya tidak (pura-pura) bodoh begini kemudian Lintang tertawa getir.
Menyadari Tessa mengejarnya, Lintang segera berlalu dari hadapan Dennis yang masih terpaku. Ketika Tessa melewatinya, Dennis mengamit tangan Tessa untuk berhenti berlari. Tessa bertanya apa maksud Dennis mengamit tangannya ini padahal ia sedang terburu-buru. Dennis balik bertanya, apa yang terjadi pada Lintang sehingga ia menangis dan berkata hal aneh padanya. Tessa menjawab, ada sedikit kesalahpahaman yang terjadi dan berkata ia harus cepat-cepat memperbaikinya. Dennis melepaskan Tessa dan membiarkannya untuk mengejar Lintang. Tanpa Dennis sadari, sebutir air mata metenes membasahi pipinya dan ia buru-buru menyekanya. Dennis kembali melanjutkan langkahnya menuju kantin dengan perasaan terluka.
Mobil Cahya melewati Ranz dan Dennis, Cahya melambaikan tangan dengan sedih pada Dennis meski ia sendiri tak benar-benar yakin Dennis melihatnya. Melihat Dennis dibonceng Ranz, mendadak timbul rasa iri dalam benak Cahya. Ia ingin berada diposisi Ranz saat ini.
Dennis tak hentinya memberi semangat pada Ranz untuk dapat mengejar mobil Cahya. Ranz tersugesti, Ia menggayuh sepeda lebih semangat. Dennis tersenyum bahagia, tanpa menyadari bahwa Cahya memandang sedih mereka dari balik mobilnya.
___
"Ah, akhirnya sampai juga." Ranz berkata dengan penuh bahagia. Ia menuntun sepedannya, begitu melewati gerbang sekolah.
"Tunggu disini." pinta Ranz pada Dennis. Ranz berkata, tak akan lama memarkirkan sepedanya. Dennis mengiyakan, ia menunggu. Ranz kembali lebih cepat dari yang Dennis perkirakan. Ia segera menyodorkan botol pada Ranz. Ranz bertanya, apa itu. Dennis menjawab, Itu adalah Jus Jambu kesukaan Ranz dan Dennis berkata membuat Ranz menunggu tadi karena Ia sedang membuat Jus Jambu. Ranz berterimakasih banyak pada Dennis.
Mereka berjalan menelusuri koridor. Seraya melangkah, Ranz berkata Jus buatan Dennis adalah Jus yang paling enak. Dennis merona dipuji oleh Ranz dan berkata Jus yang dibuatnya adalah bayaran untuk peluh Ranz karena mengantarnya. Ranz tersenyum dan berkata tidak perlu bayaran. Dennis tertawa riang. Tanpa Ranz dan Dennis sadari, agak jauh dibelakang mereka, Lintang berjalan dengan wajah murung. Sesekali merengut, memandang Ranz dan Dennis penuh keirian.
___
Kring... Kring....
Bel berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai. Anak-anaknya yang berada diluar kelas berhamburan masuk ke kelas mereka masing-masing.
___
VIII-F
"Selamat Pagi Anak-Anak Sekalian!"
"Pagi bu!"
"Sebelum memulai pelajaran, kalian akan mendapat teman baru."
Seketika, suasana kelas menjadi ramai penuh bisak-bisik.
"Teman baru? Ugghh," gumam Lintang tak senang, ia memilih melanjutkan menyimak novelnya dibanding mendengar penjelasan selanjutnya mengenai 'teman barunya'.
"Ayo, silahkan masuk!"
Semua anak kecuali Lintang dengan tegang memerhatikan pintu kelas.
Seseorang yang disebut 'teman baru' mereka masuk ke dalam kelas seraya tak hentinya menyungging senyum.
"Lintang, ayo lihat! Teman baru kita bahkan lebih tampan dari Ranz." Tessa menyenggol sikut Lintang, setengah berbisik. Lintang melirik sinis pada Tessa ketika ia menyebutkan nama Ranz. Cepat-cepat Tessa mengklarifikasi. "Ngg... dia cukup tampan. Coba lihat dia, kau pasti akan langsung menyukainya."tukas Tessa, matanya menujuk.
Lintang menengok arah yang ditunjukan Tessa. Didepan kelas, seseorang yang tak asing berdiri sedang mempernalkan diri. Lintang cuma tersenyum tipis lalu kembali menyimak novelnya. Tessa bertanya, mengapa Lintang tidak antusias seperti ini. Lintang menjawab, ia sudah mengenalnya jadi untuk apa antusias dengan sesi perkenalan ini. Tessa semakin penasaran, ia mengajukan pertanyaan bagaimana mereka bisa saling kenal. Tapi Lintang menjawab dengan dingin, bahwa itu sama sekali tak penting untuk diberitahu. Tessa merengut dan kembali antusias menyaksikan Cahya memperkenalkan diri.
___
Kring... Kring... Kring...
Bel Istirahat berbunyi. Dengan serempak, hampir seluruh anak dari setiap kelas disekolah, bersama-sama hambur dari ruang kelas masing-masing tak terkecuali Lintang dan Tessa. Mereka berjalan menuju kantin, namun pandangan Lintang tetap fokus pada novelnya, agaknya Tessa sudah memaklumi Lintang.
Begitu sampai dikantin, Tessa bertanya Lintang ingin pesan menu apa. Milkshake Vanila, jawab Lintang. Tessa kemudian menyuruh Lintang untuk segera mencari meja makan untuk mereka dan memintanya menunggu selama ia memesan. Lintang mengiyakan. Ia segera dengan mudah mendapatkan meja, ia pun duduk dan kembali asyik dengan novelnya. Sesaat, Tessa datang membawa menu pesanannya dan Lintang, mereka menikmati menu mereka masing-masing.
Diwaktu yang bersamaan, Cahya telah membawa menu makanan yang dipesannya namun ia bingung akan duduk dimana karena setiap meja sudah dipakai. Matanya mencari-cari sosok Dennis namun yang ia lihat Lintang. Ia tersenyum kemudian menghampiri Lintang dan bertanya pada Lintang apakah boleh berbagi meja. Sebelum Lintang menjawab, Tessa lebih dulu menjawab bahwa tentu saja boleh. Lintang melirik tajam pada Tessa namun Tessa hanya tersenyum memelas. Mau tak mau, akhirnya mereka bertiga melingkar disatu meja seraya menghabiskan menu masing-masing.
Tessa memulai percakapan dengan bertanya banyak hal pada Cahya. Cahya menjawab dengan antusias. Sementara Lintang acuh tak acuh. Sampai akhirnya, Cahya mengajukan pertanyaan yang membuat Lintang terkejut setengah hidup dan tersedak.
"Apa kalian tau dimana kelas Dennis?!"
Secara bersamaan, Lintang dan Tessa saling menoleh dan bertatapan. Wajah mereka, pucat.
Hening.
"...."
Lintang segera mengalihkan pandangan pada Cahya. Cahya terkejut, mendapati mata Lintang berkaca-kaca. Segera, Lintang menyeka air matanya dan berdiri. Ia berkata, tiba-tiba merasa mual dan tidak bernafsu. Lintang berlalu begitu saja meninggalkan kantin, membuat Cahya kebingungan. Cahya bertanya kepada Tessa, apa yang terjadi. Tessa menjawab dengan gugup bahwa pasti ada kesalahpahaman kemudian pergi untuk menyusul Lintang. Sebelumnya Tessa berpesan pada Cahya, untuk menjaga meja mereka. Cahya mengiyakan dengan bingung. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.
___
Lintang terus berlari tanpa peduli arah. Airmata tak kuasa untuk Lintang bendung. Beberapa meter dibelakangnya, Tessa mengejar Lintang terengah-engah.
Bukk!
Tanpa sengaja, Lintang menabrak Dennis.
Lintang tak peduli pada Dennis yang terjatuh. Ia segera ingin berlalu, namun cepat-cepat Dennis menarik tangannya untuk mencegat Lintang. Dennis begitu terkejut mendapati wajah Lintang basah airmata dan bertanya ada apa.
"Tidak usah pura-pura peduli!" Jari telunjuk Lintang menunjuk pundak Dennis. Tatapannya penuh amarah dan begitu menusuk bagi Dennis. Dennis terkejut setengah mati atas perkataan Lintang yang begitu menusuk. Ia melihat kebencian pada tatapan Lintang kepadanya.
Belum sempat Dennis menyangga, Lintang berteriak dengan keras dan sontak membuat perhatian tertuju pada mereka. Lintang tidak peduli dan ia berkata pada Dennis untuk menghentikan drama ini secepatnya dan Lintang sudah merasa sangat muak. Dennis bertanya apa maksud Lintang. Namun Lintang menjawab dengan sinis bahwa Dennis seharusnya tidak (pura-pura) bodoh begini kemudian Lintang tertawa getir.
Menyadari Tessa mengejarnya, Lintang segera berlalu dari hadapan Dennis yang masih terpaku. Ketika Tessa melewatinya, Dennis mengamit tangan Tessa untuk berhenti berlari. Tessa bertanya apa maksud Dennis mengamit tangannya ini padahal ia sedang terburu-buru. Dennis balik bertanya, apa yang terjadi pada Lintang sehingga ia menangis dan berkata hal aneh padanya. Tessa menjawab, ada sedikit kesalahpahaman yang terjadi dan berkata ia harus cepat-cepat memperbaikinya. Dennis melepaskan Tessa dan membiarkannya untuk mengejar Lintang. Tanpa Dennis sadari, sebutir air mata metenes membasahi pipinya dan ia buru-buru menyekanya. Dennis kembali melanjutkan langkahnya menuju kantin dengan perasaan terluka.
bersambung

0 komentar:
Posting Komentar