Cahya menyadari bahwa novel milik Lintang tertinggal dimeja. Ia segera mengambilnya kemudian membolak-baliknya. Cahya berniat mengembalikannya pada Lintang nanti, lalu ia menaruh novel itu disisi meja.
Cahya mengaduk-aduk Jus Jambu-nya dengan tampang bosan. Sejak Lintang dan Tessa pergi, ia tidak punya teman bicara. Hingga mata Cahya menangkap sosok Dennis, Cahya segera merapikan posisi duduknya dan berdehem beberapakali untuk memastikan suaranya terdengar gagah. Setelah merasa siap, tangannya melambai pada Dennis.
Dennis tersenyum mendapati Cahya melambai kepadanya dan segera menghampiri Cahya. Sebelum Dennis bertanya apa boleh berbagi meja, Cahya lebih dulu menegaskan bahwa Dennis tentu saja boleh duduk satu meja dengannya. Dennis tertawa melihat tingkah Cahya dan bertanya bagaimana bisa paham. Cahya menjawab, bahwa itu adalah maksud dari lambaian tangannya. Dennis tersenyum membenarkan.
Sampai akhirnya, Cahya teringat bahwa ia belum berkenalan dengan Dennis. Segera ia mengulurkan tangan pada Dennis seraya menyebutkan namanya. Dennis dengan menyunggingkan senyum ramah menjabat tangan Cahya seraya menyebutkan juga namanya. Untuk sesaat, Cahya merasa bahagia dapat mengobrol berdua dengan Dennis. Ia bercerita banyak hal lucu pada Dennis, membuat Dennis tertawa dan sejenak melupakan peristiwa tadi. Hingga akhirnya, Cahya menyadari Dennis tidak ceria seperti sebelumnya. Semua itu tersirat dari mata Dennis yang lesu. Lalu Cahya bertanya, apa yang membuat Dennis bersedih. Dennis terkejut dan balik bertanya bagaimana Cahya bisa tau. Cahya berkata ia dapat melihat kesedihan Dennis dari sorot matanya. Dennis tertawa getir dan berkata ada masalah (mungkin) salahpaham. Cahya meminta dengan hati-hati pada Dennis, untuk menceritakan masalahnya.
Dennis terdiam. Merasa Cahya baru dikenalnya, Dennis menggeleng. Seraya tersenyum, ia berkata pada Cahya biar Ia saja yang menanggung masalahnya sendiri dan menyelesaikannya. Cahya tersenyum menyemangati Dennis. Cahya berkata walau ia tidak bisa bantu banyak, ia mendoakan agar masalah Dennis segera selesai. Dennis berterimakasih pada Cahya. Ia mulai merasa nyaman dengan Cahya.
"Hai Dennis!"
Ranz tiba-tiba datang dan langsung menempati diri dikursi kosong disamping Cahya. Cahya terkejut dan gugup. Ia jadi salah tingkah seperti ini apalagi Ranz memandangnya dengan ngeri. Cahya tak berdaya, dan hanya menelan ludah dan terpaksa mengijinkan Ranz mengganggu bahagianya. Dennis tersenyum senang menyambut kehadiran Ranz.
Sejak kehadiran Ranz, Cahya jadi pendiam dan tak banyak berkata. Ia takut salah berkata dan menyebabkannya akan ditinju seketika. Hingga ia membiarkan, Ranz dan Dennis asyik mengobrol. Dalam hatinya, Cahya berdoa meminta petunjuk agar dapat segera pergi menjauh dari Ranz. Tuhan menjawab doa Cahya, tiba-tiba Dennis menggenggam tangannya. Cahya terpaku memandang Dennis. Dennis hanya tersenyum kemudian mengalihkan padangan kepada Ranz seraya juga mennggenggam tangan Ranz. Ranz dan Cahya saling memandang Dennis dengan tatapan bingung.
"Mulai saat ini, aku jadi saksi bahwa kalian telah berteman baik dan saling berjanji untuk tidak menyakiti satu sama lain." Dennis berkata seraya menyatukan kedua tangan Ranz dan Cahya. Senyum tak pernah lepas dari wajah Dennis.
Cahya menelan ludah.
Ranz ingin membantah, namun begitu ia melihat raut wajah Dennis yang bahagia dan sumringah Ranz membatalkan niatnya. Ia memaksakan senyum kepada Cahya dan menjabat tangan Cahya dengan gemas. Ranz berkata, mulai sekarang ia dan Cahya akan menjadi teman baik. Cahya dengan ketakutan mengiyakan dan terpaksa mengatakan ia senang dapat berteman dnegan Ranz. Ranz melempar senyum licik pada Cahya. Lagi lagi, Cahya menelan ludah. Ia mulai merasa tak nyaman, namun ia berusaha menyembunyikannya dengan (pura-pura) menikmati menunya sendiri.
___
Diwaktu yang bersamaan, Lintang sedang menangis dibawah pohon rimbun dekat Taman disudut sekolah. Kedua telapak tangan Lintang menutupi wajahnya. Lintang merasa begitu tertekan.
Diwaktu yang bersamaan, Lintang sedang menangis dibawah pohon rimbun dekat Taman disudut sekolah. Kedua telapak tangan Lintang menutupi wajahnya. Lintang merasa begitu tertekan.
"Mengapa gadis seperti menangis? Itu membuat kecantikanmu luntur.."
Lintang tercekat. Ia segera menyeka air matanya dan menengok.
Alangkah terkejutnya Lintang.
Lintang terpana.
"Apakah ini cuma bayangan... ?"
"...."
bersambung

0 komentar:
Posting Komentar