Don't Break My Heart, You Live There

by 15.48 0 komentar
Apakah perlu kutanyakan kabarmu, Tuan? Kurasa tidak perlu. Aku sudah merasa cukup tahu. Menyenangkan sekali, mendapati kamu bertahan hidup sekali lagi. Terlebih, aku sembunyi-sembunyi memantaumu setiap saat. Tidak setiap saat, maksudku.. Ya, begitulah Tuan. Ah, Tuan… perkenankan aku memperkenalkan diri kepadamu. Nama: Ul, Hobi: Mengemas Kebahagiaan. Dan aku pikir, kau tidak perlu mengerti tentang biodataku yang sebenar-benarnya. Terserah kau akan menyebutku siapa saja, dengan senang hati aku terima.

          Tuan, semoga engkau memberiku nama atau sebutan yang sebaik-baiknya kepadaku. Tapi.. sebutan ‘Pengagum Rahasia’ sudah terasa begitu keren.

          Tuan… jujur saja, aku tidak tahu-menahu mengapa dan tujuan dari aku tulis sepenggal kalimat demi kalimat surat pengakuan –jika memang pantas disebut begitu, tapi temanku bilang ini lebih cocok disebut surat cinta- ini. Aku senang merangkai kata, meski rangkaian kataku tidak lebih indah daripada lekuk senyummu yang betapa menawannya.  Aku tidak bicara tentang omong kosong. Aku sangat jujur, -jika aku boleh menilai diriku sendiri-. Aku tak pandai merangkai kata, namun aku harap kau mengerti kerinduan yang aku tulis di hatimu.

          Aku menganggumi dirimu. Diam-diam suka. Tidak, lebih daripada batas suka. Cinta, mungkin. Sesederhana itukah? Melihatmu, mengenalmu, mengagumimu, menyayangimu lalu mencintaimu? Ya, lebih sederhana lagi ketika aku memilih menjadi pengagum-mu diam-diam. Semua yang indah tersirat dari guratan matamu. Kau tak pernah tampak kekurangan, mendekati sempurna. Tubuh tinggi semampai dibalut kulit putih, gigi yang tidak rapi justru membuatmu tampak menawan ketika kau sekedar tersenyum atau tertawa, rambut hitam pekat agak gondrong dan runcing membuatmu terkesan seperti ksatria. Gagah sekali.

          Apakah engkau ingat Tuan? Ketika pertama kalinya, aku dan kamu begitu dekat. Hanya berjarak beberapa inchi. Saling diam, sibuk mengedarkan pandangan kesekeliling. Ditepi jalan, pada sebuah bangku mungil. Hingga, pada saatnya aku merasa begitu gerah dengan keheningan ini. Nyaliku menciut ketika kau menoleh dengan mata menyipit serta lekukan senyum yang begitu manis. Apa rahasiamu punya tatapan semenawan itu, tuan? terkesima aku hingga lupa cara menyapa. Aku mengumpulkan kembali nyaliku, setelah merasa cukup berani aku menyapamu seraya (berusaha) tersenyum semanis mungkin. Dengan suara yang sama-sama tercekat dan agak tertahan dipangkal, kita berbincang dengan tingkah paling aneh. Perbincangan yang membosankan, tepatnya hanya sekadar basa-basi. Meskipun begitu, cukup mengesankan bagiku. Terlebih saat kau menatapku, jantungku berdegup tanpa aturan. Aku merasa tersihir. Diammu saja meneduhkan, bagaimana dengan senyum dan tawamu, Tuan?

          Lalu… apakah Tuan masih ingat tentang percakapan seru aku dan kamu di pesan singkat? Atau.. ketika aku membangunkanmu jam tiga dini hari, dengan sms berkali-kali, untuk menagih janjimu untuk sembayang malam? Aku ingat persis. Rasanya, aku ingin kembali pada masa-masa itu. Dan, aku menjadi penyedih ketika kedekatan kita kembali merenggang. Aku tidak mengerti apa sebabnya, apa kau sudah punya seorang kekasih Tuan? Atau, kerenggangan ini salahku karena terlalu gengsi menghubungimu duluan? Aku pernah sekali menghubungi kamu duluan, tepat pada malam minggu mendekati tahun baru ini, terimakasih atas responmu yang membuatku merasa begitu istimewa dan –sesaat- bahagia. Dan.. kau ingat dipesan singkat kau menyebutku sebagai ‘Ratu’? Ah, masa-masa yang membahagiakan.

          Semoga dugaanku salah tentang kau telah punya kekasih.

          Semoga.

        Atau jika benar, aku tidak perlu tahu. Aku pasti akan merasa sangat sakit dan tidak sanggup mengobati lukaku sendiri. Terlampau, waktu juga tidak pandai mengobati; apalagi kenangan-kenangan tak ingin tersingkir. Tidak… aku lebih baik tidak tahu. Jadi, tolong jangan beritahu ya jika engkau telah punya kekasih hati, Tuan!

          Don’t break my heart, you live there.

          Aku ingin, aku dan Tuan menjadi begitu dekat seperti pada awal masa perkenalan aku dan kamu. Tidak perlu, dengan ikatan ‘kekasih’-tapi aku harap mendapatkan predikat yang sebaik-baiknya dimatamu-. 

          Namun, senyum Tuan masih berupa misteri yang sejauh ini masih terbungkus rapi. Mungkinkah sebuah isyarat? Semoga adalah pertanda baik. Tersenyumlah tuan, aku suka menatap lekat senyummu.. meski tak harus kepadaku. Dan, tentang segala yang menjadi senyummu semoga (tetaplah) aku alasannya.

          Dan sebelum paragraf terakhir surat ini, aku ingin setelahnya aku dan kamu menjadi dekat; sedekat embun dan daun. Dan, biarlah aku mengagumi kamu diam-diam, seperti bekas embun yang mengendap dan mengering didedaunan. Satu lagi Tuan, tolong jangan jadikan  aku laksana genangan embun yang ditinggalkan daun. Aku akan berusaha, untuk menjadi embun yang selalu dirindukan daun dan tanah.

          Diparagraf terakhir surat ini, aku berterimakasih banyak. Kita, adalah semoga yang (aku) harap diaminkan semesta. Susah, mudah, duka dan suka adalah empat yang akan menyatukan kita kelak. Percayalah, aku sedang mengemas kebahagiaan untuk 'kita'. 

Tertanda,
Pengagum Rahasiamu.
-Dinda Mosa-

Unknown

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar