Daun, Embun dan Takdir #01

by 04.57 0 komentar
"Jikalau aku menjadi daun, maukah engkau menjadi embun lalu terjatuh ditakdirku?"

Halo Tuan. Bagaimana kabar Tuan? Kuharap Tuan selalu baik-baik. Tuan duduklah dengan santai, jika perlu ditemani secangkir susu hangat atau teh hangat. Tarik nafas pelan-pelan dan hembuskan perlahan-lahan. Selamat Menikmati Kisah Klasik yang kubuat istimewa untuk bacaan Tuan, kiranya dapat melenyapkan sejenak penat Tuan. Dan, satu lagi. Aku berharap, Tuan menyukai kisah ini.
___

Ting.. Ting.. Ting..

Bunyi denting sendok dan mug berwarna coklat yang beradu ketika Dennis mengaduk susu cokelat hangat. Dennis menyesapnya perlahan-lahan.

Tok.. Tok.. Tok..

"Nona! Nona!"

Suara Haspi dari balik pintu, menyerukan nama Dennis seraya mengetuk pintu.

"Nona! Nona!"

Segera Dennis membukakan pintu untuk Haspi. Begitu pintu terbuka, Haspi segera mengamit tangan Dennis erat-erat.

Dennis bertanya, mengapa Haspi begitu panik. Haspi menjawab, ada seorang anak yang sedang dihajar oleh Ranz. Haspi meminta Dennis untuk menghentikan perkelahian ini, atau anak malang itu bakal mati dihajar. Dengan khawatir, Dennis menutup pintu rumahnya rapat-rapat kemudian ia dan Haspi segera menuju.

___

"Ranz! Hentikan!"

Ranz beserta kawanannya berhenti tertawa. Mereka menoleh. Tidak jauh dari hadapan mereka, berdiri Dennis diikuti Haspi. Dennis segera mendekati Ranz dan bertanya pada Ranz, atas dasar apa Ranz memukuli   anak malang ini. Ranz menjawab, anak itu telah menganggu ketenangannya dan kawanannya. Bagaimana caranya, tanya Dennis kembali. Ranz menjelaskan, anak itu meminta berteman dan bergabung dengan cara yang salah.

"Haspi, bawa teman baru kita ini menjauh. Pergilah ke Taman. Aku akan segera menyusul." perintah Dennis.

Haspi menurut. Ia segera membatu Cahya untuk bangkit dan menuntunnya menuju Taman. Beberapa langkah agak jauh dari tanah Dennis berpijak, Cahya berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Haspi memerhatikan Cahya yang tersenyum pada Dennis walau Dennis sendiri tidak menyadarinya. Sesaat kemudian, Cahya dan Haspi melanjutkan langkah mereka.

___

Sesampainya di Taman, Haspi menyuruh Cahya untuk duduk diayunan Taman dan menunggunya. Haspi berkata, ia akan segera mengambil kotak p3k untuk Cahya dan memohon Cahya tidak pergi kemanapun selama ia pergi. Cahya mengiyakan.

Tak lama kemudian, Haspi berlalu dipandangan Cahya. Cahya menerawang memandang langit, membayangkan apa yang sedang dibicarakan Dennis dengan Ranz berserta gerombolannya tadi.

___

Diwaktu yang bersamaan, Dennis menarik tangan Ranz menjauhi kawanannya.

"Ranz, tolong hentikan! Jangan sakiti lebih banyak orang lagi," pinta Dennis, ia menatap Ranz sedalam mungkin.

Ranz segera menyangkal, dan menjelaskan ia hanya bermain dengan teman baru. Bermain dan bagaimana bisa disebut bermain jika satu pihak tersakiti sampai memar begitu diwajahnya, tukas Dennis. Ranz terdiam, untuk pertamakalinya Dennis hilang kesabaran pada Ranz.

"Lalu apa yang kau mau?"

Dennis terdiam sejenak.

"Berhenti menyakiti banyak orang. Kau tau, anak itu, seharusnya kita menyambutnya dengan baik bukan seperti ini."

"Tapi..."

"Aku tidak mau mendengar kabar tentangmu, kalau kau berbuat onar lagi!" potong Dennis. Dengan nada putus asa Dennis melanjutkan, "Berhentilah melakukan hal ini. Cukup kau buat aku kecewa, orangtuamu dan saudaramu."

Ranz terdiam dan menunduk.

"Aku sebagai sahabat yang menyayangimu, aku mengatakan ini. Aku tidak ingin kau terlibat masalah lagi, sekecil apapun itu karena aku takut sebagai sahabatmu tidak dapat membelamu. Aku menyayangimu, Ranz..."

"Baik.." Ranz menjawab, frustasi.

"Terimakasih Ranz. Aku pegang ucapanmu." Dennis tersenyum pada Ranz. Ranz tersenyum sedih pula pada Dennis.

Dennis berbalik, hendak menuju Taman. Namun Ranz segera mengamit tangan Dennis, mencegahnya untuk pergi.

"Mau kau apakan anak malang itu?"

"Akan ku-obati. Menyingkirlah. Tolong, beri aku jalan."

Ranz benar-benar tak kuasa, ia memberi jalan pada Dennis. Kawanannya hanya terdiam menyaksikan ini. Perlahan, Dennis lenyap dari pandangan mereka.

"Ranz, apa yang kau lakukan?" tanya Ully, salahsatu dari kawanan Ranz.

Ranz mengabaikan pertanyaan Ully dan tertawa getir.
___

Ngik.. Ngik..

Dennis telah tiba di Taman, namun hanya ada Cahya yang sedang bermain ayunan. Dennis mendekati Cahya dengan duduk pula diayunan sebelah Cahya. Menyadari kehadiran Dennis, Cahya berhenti berayun. Ia menoleh pada Dennis, namun Dennis tidak menyadarinya. Saat itu, Dennis sedang mengenadahkan wajahnya ke langit seraya memejamkan mata.

"Ngg.. Hai." Cahya menyapa.

Menyadari Cahya menyapanya, Dennis menoleh. Cahya terpana begitu untuk pertama kalinya, Dennis tersenyum padanya. Matanya menyipit kala ia menyahut salam Cahya.

Hening melanda mereka.

Begitu hening.

"Terimakasih telah menolongku..." akhirnya, Cahya tak tahan dengan keheningan ini. Ia membuka percakapan.

"Bukan masalah. Kembali kasih," sahut Dennis. Ia mengayun-ngayunkan ayunannya dengan asyik.

Kemudian, Dennis bertanya pada Cahya dimana Haspi. Cahya menjawab, bahwa Haspi sedang mengambil kotak p3k untuknya. Dan Cahya bertanya, apa rumahnya sangat jauh hingga mengambil kotak itu lama sekali. Tidak juga, jawab Dennis.

Tak lama kemudian, terlihat Haspi berlari terengah-engah mendekat ke mereka. Dennis tersenyum dan berkata setengah bergumam, Haspi adalah gadis manis yang baik dan penurut. Cahya mengiyakan perkataan Dennis.

Haspi segera membuka kotak p3k dan menyerahkan beberapa obat pada Dennis.

"Aww.. Aww!"

"Tahan Tuan.."

"Aww!"

Seraya mengoleskan obatt luka pada wajah memar Cahya, Dennis bertanya bagaimana cara Cahya menganggu Ranz dan kawanannya. Cahya meyangkal, Ia samasekali tidak menganggu. Tapi Ranz bilang kau menganggu mereka, tukas Dennis. Aku hanya mengajak mereka berteman, jawab Cahya.

Dennis mendongkakkan kepalanya, menatap Cahya. Tatapan Cahya bukan tatapan kebohongan. Dennis kembali fokus lalu membalut luka dilutut Cahya.

"Bagaimana caramu tadi, mengajak mereka berteman?"

"Tentu saja, ku ajak berkenalan."

"Lalu?"

"Kita berkenalan. Seperti pada umumnya, saling berjabat tangan."

"Saat berjabat, apa yang kau rasakan?"

"Ngg.. tangan mereka seperti hendak meremukkan tanganku."

Dennis tertawa, kemudian bertanya pada Cahya tentang apa yang akan dikatakannya pada orangtuanya jika mengetahui hal ini. Dennis juga memohon, untuk tidak menghukum Ranz karena bagaimanapun mereka telah kenal lama dan bersahabat. Menyadari kesedihan Dennis,Cahya menjawab setengah bergurau. Ia bilang, ia akan berkata pada orangtuanya kalau dirinya terjatuh dan masuk selokkan lalu ditolong oleh bidadari rupawan.

Lagi-lagi, Dennis tertawa.

Ia telah selesai membalut luka Cahya.

"Atas nama sahabatku, Ranz beserta kawanannya, aku minta maaf. Kiranya kamu maafkan mereka," Dennis membungkuk sebentar.

"Tidak papa. Aku sudah memaafkan mereka karena kebaikanmu."

Dennis mengucapkan terimakasih banyak kepada Cahya atas maafnya. Ia juga berpesan kepada Cahya, untuk lebih hati-hati selama lukanya belum sembuh. Cahya mengiyakan. Dennis berkata, untuk memaklumi sikap Ranz dan teman-temannya karena bagi mereka sulit menerima kedatangan seseorang yang baru. Cahya tersenyum pada Dennis.

"Ayo Haspi, kita pulang. Selamat sore Tuan, semoga hari ini menyenangkan." ujar Dennis, pamit kepada Cahya. Cahya mengangguk mengiyakan.

Tanpa mereka sadari, Ranz memerhatikan mereka dari kejauhan. Tangannya mengepal dan matanya marah memandang Cahya. Sejak ini, kebencian Ranz semakin menjadi pada Cahya.

Segera Dennis diiringi Haspi, pergi meninggalkan Cahya sendirian di Taman. Baru beberapa langkah, bahu Dennis ditepuk. Ia segera berbalik. Rupanya Cahya yang menepuk bahunya.

"Ada apa? Masih perlu bantuankah Tuan untuk sampai dirumah?" tanya Dennis.

Cahya menggeleng sambil tersenyum lalu membungkuk sebentar kepada Dennis. Ia berkata lupa mengucapkan terimakasih dan akan mengucapkannya sekarang. Cahya mengucapkan terimakasih atas pertolongan yang diberikan Dennis.

"Kembali kasih."

"Kalau begitu, Nona pulanglah dengan selamat. Hati-hati dijalan!"

Dennis tersenyum sesaat pada Cahya, kemudian melanjutkan langkahnya bersama Haspi.

Saat mereka betul-betul lenyap dipandangan Cahya, ia teringat satu hal. Cahya memukuli kepalanya dan berkata pada dirinya bahwa dirinya begitu bodoh. Cahya merasa menyesal karena tidak sempat berkenalan pada Dennis. Susah payah, Cahya berusaha mengejar Dennis dan Haspi. Terlambat, langkah mereka terlalu jauh dikejar untuk Cahya dengan lutut yang perban seperti ini.

Bukk!

Saat dalam pelarian mengejar Dennis, Cahya tak sengaja menabrak Lintang. Lintang jatuh tersungkur namun segera bangkit. Kemudian ia  membereskan buku-bukunya yang jatuh berserakan. Cahya dengan perasaan bersalah, turut membantu Lintang.

"Apa Nona baik-baik saja?" tanya Cahya khawatir. Lintang dengan senyum dipaksakan, mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan merasa ceroboh. Cahya menyangkal, bahwa kecelakaan kecil ini adalah karena kecerobohannya. Begitu melihat lutut Cahya yang dibalut perban, Lintang mengurungkan niatnya untuk meluapkan amarahnya. Seraya tersenyum, Lintang berkata tidak papa dan telah memaafkan Cahya.

"Serius?"

"Aku tidak suka bergurau, maka aku serius."

Cahya tersenyum pada Lintang. Teringat akan penyesalannya terhadap Dennis, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera ia mengulurkan tangan pada Lintang dan menyebutkan namanya.

Lintang menerima uluran tangan Cahya dan menyebutkan namanya. Senyum tipis disunggingkan Lintang pada Cahya dan berkata ia senang mendapat teman baru. Cahya juga mengatakan hal yang sama, ia memohon pada Lintang untuk mengajaknya mengenali kota barunya ini lebih lanjut terutama area disekitar rumahnya. Lintang hanya mengangguk.

Tiba-tiba Cahya teringat pada Dennis.

"Lintang?"

"Ya?"

"Boleh aku bertanya satu hal lagi?"

"Tentu,"

"Kau tau, tentang gadis sebayamu. Tingginya kira-kira, lima sampai tujuh sentimeter lebih pendek daripada aku. Rambutnya lurus dan terurai?"

"Disini banyak anak gadis yang rambutnya lurus dan terurai juga."

"Yang selalu bersama seseorang yang dipanggilnya, 'Haspi'"

"Oh, Itu.."

Lintang terdiam dan merengut sebal. Ia berusaha menutupi kekesalannya dengan tersenyum.

"Itu.. Siapa?"

"Ada apa dengannya?"

"Ia telah menolongku. Bahkan ia yang membalut lukaku ini,"

"Oh, dia memang gadis yang baik." nada bicara Lintang, terdengar kurang mengenakkan.

"Kau kenal?"

"Ya"

"Siapa namanya? Bodohnya aku. Tadi lupa untuk ku-ajak berkenalan."

"Kau benar-benar ingin tahu?"

"Iya,"

Hening. Lintang terlihat ragu untuk mengatakannya.

"Namanya..."
bersambung

Unknown

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar