Genggamanmu, Gal.

by 23.59 0 komentar


Entahlah, tiba-tiba terinspirasi untuk membuat cerpen seperti ini. Seolah ada sihir yang menuntun. Sebenarnya, ini sebagai tanda permintaan maaf kepada Kak Ara dan ucapan terima kasih kepada Gal. Selamat menikmati cerpen sederhana ini.

___



“Jadi…”


Seketika, aku memalingkan wajahku darimu. Tak ada nyali sedikitpun untuk menatapmu lagi. Kurasa, kali ini aku benar-benar membuatmu kecewa.


            Kemudian, hening melanda kita untuk beberapa saat. Hanya terdengar helaan nafas panjang yang berat sesekali, darimu.


            Tadinya, aku senang bukan kepalang. Pagi-pagi sekali, kamu tumben mengajakku bertemu di Taman kesayangan kita. Bahkan mulanya aku tidak percaya sepenuhnya, butuh berkali-kali membaca pesan singkatmu untuk menyakinkan diriku sendiri. Ini seperti mimpi.


           Tapi kenyataannya, ternyata ini nyata namun lebih seperti mimpi. Mimpi buruk. 

          Sesampainya di Taman, aku mendapatimu tengah berayun. Tapi tidak kutemui segaris lengkung senyum di bibirmu. Ku perhatikan seksama, wajahmu tampak murung. Cukup lama aku berdiri termagu, sampai akhirnya kamu menyadari kehadiranku. Tetapi kamu malah menyambutku dengan tatapan iba, agaknya membuatku terenyuh.

            Kita pun saling mendiamkan. Aku terduduk di ayunan, berayun-ayun rendah.


            Hei, Gal, aku ingin naik ayunan yang kamu dorong ke udara dan tetap kamu jaga saat aku kembali padamu. Pasti menyenangkan.


            Seraya bersenandung dalam diam, aku mencoba memandangmu ulang sesekali. Uggh, Gal, kamu benar-benar manis! Aku suka pada apa-apa yang ada padamu, kataku dalam hati.


            “Selamat Pagi, Nis.” Akhirnya! Kamu menyapaku juga. Aku pun menoleh. Salah apa aku, kamu malah memalingkan muka padahal aku sudah sangat berharap disuguhi senyummu. Ah, Gal, kau tau tentang segaris lengkung senyummu jauh lebih menawan daripada fajar saat kini??


            “Pagi juga, aa.” Sahutku canggung. Hei, ada apa ini? Tidak biasanya kamu bersikap aneh, bersikap dingin seperti ini. Malah mungkin ini yang pertama kalinya.


            Lagi-lagi, keheningan melanda kita. Sejujurnya, membuatku tidak betah. Memaksaku untuk membuka perbincangan lebih dulu. Tentu saja ini aku lakukan, sebab mana mungkin aku membiarkan hening akan menelan kita selamanya.


            “Hei, Gal, pagi ini cerah sekali! Fajarnya benar-benar indah, kan?” ujarku kepadamu dengan seriang mungkin. Ini adalah caraku, untuk bersikap seolah semuanya baik-baik saja meskipun aku tidak merasa demikian.


            Kamu menyahutku dengan tawaan yang getir.


            “Ada yang lucu ya??” aku mendelikkan mataku kepadamu, sebagai isyarat supaya kamu berhenti tertawa.


            Setelah mengatur nafas, kamu menjawab, “Tentu ada,”


            “Ada?”


            “Iya, memplagiat karya seseorang misalnya. Lucu kan?? Ahahaha!” kemudian kamu tersenyum kecut selepas tawamu mereda.


            Hah? Kamu bicara apa, Gal? Omong kosong macam apa ini?


            “Maksudmu, Gal?” dahiku berkerut, pertanda aku tidak mengerti. Bahkan kedua alisku hampir menyatu. Tidak biasanya, aku tidak mengerti maksud perkataanmu. Biasanya aku selalu dapat mengerti, bahkan sesulit apapun perkataanmu untuk di cerna.


            “Apa perlu aku menjelaskannya panjang dikali lebar dikali tinggi sama dengan volume?” kamu malah bertanya balik. Detik itu juga, aku merasa jadi terdakwa.


            “Itu kalau kamu mau berbaikhati menjelaskannya, Gal. Sebenarnya, ada apa sih? Kamu aneh sekali.”


            “Karenamu. Kamu selalu merasa kita seperti baik-baik saja, karena aku masih ingin bicara kepadamu, sayang. Tetapi tetap bicara, lantas bukan berarti yang kemarin tidak pernah terjadi.” Kamu memasang tampang sok muak kepadaku. Eh, atau memang aku yang berhasil membuatmu benar-benar muak?


            “Gal.. ada apa sih? Aku nggak mengerti,” kataku merengek manja.


            “Jadi, kalau pernah berbuat salah, jangan berlagak seolah semuanya baik-baik saja. Jangan memanipulasi yang ada. Kau tau kan, manusia seperti itu membuatku muak, sayang,”


            Ya Tuhan, pertanda apa ini?


            “Maksudmu…?”


            Kamu menarik nafas panjang-panjang, menahan sesaat lalu menghembuskannya.


            Sementara dugaan-dugaan dan prasangka-prasangka bermunculan di kepalaku, berseliweran di benakku.


            Jangan-jangan, kamu sudah bosan kepadaku. Jangan-jangan, kamu sudah lelah menghadapi sifatku yang manjanya sudah terlalu. Jangan-jangan, kamu jenuh akan aku yang begitu cengeng. Jangan-jangan, kamu mual akan tingkahku yang masih seperti kanak-kanak ini. Atau jangan-jangan, kamu sudah muak mempedulikanku.


            Sebenarnya, itu wajar. Dan jika nantinya kamu memutuskan untuk pergi, aku merelakanmu. Apa boleh buat? Aku tidak akan pernah bisa menahanmu untuk tinggal lebih lama lagi. Lagipula, kamu terlalu berharga untuk mempertahankan gadis yang tidak sepantas ini untukmu. Tapi tentu saja dengan satu syarat, kamu boleh pergi jauh asal kamu berjanji tidak akan sampai terjatuh. Dan aku rasa, mungkin sudah seharusnya dari dulu kamu meninggalkanku. Tentulah, dengan alasan-alasan yang masuk akal. Apalagi selama ini kamu sudah benar-benar begitu telaten menghadapiku. Dan untuk itu aku berterimakasih banyak.


            “Selesaikan. Hapus semuanya. Ingkari sebisanya,” dan detik ini juga, aku semakin kelimpungan.


            “Maksudmu, Gal? lelucon macam apa ini?”


            Sedetik kemudian, kamu pun beranjak. Mendekatiku, berlutut dihadapanku. Segera aku memalingkan muka. Tapi tanganmu dengan lembut merengkuh wajahku, kamu menatapku lekat-lekat dengan penuh percaya diri. Ah, Gal. Ya, kamu pria yang tau dengan pasti, bahwa aku tidak bisa mengelak dari tatapanmu itu. Aku takkan bisa berbohong di hadapannya, takkan pernah bisa. “Kau sayang kepadaku, kan?” tanyamu, aku hanya mengangguk. “Sebenarnya tidak ada sulit, Nis, kalau kamu mau berterus terang kepadaku. Tentang apapun. Jangan menunggu aku tau dengan menerka-nerka segala,” lanjutmu, tersenyum. Ah, Gal, senyummu tidak pernah gagal menghangatkan isi hatiku.


            “Iya, Gal. Tapi berterus terang tentang apa? Kurasa, aku nggak menyembunyikan apapun darimu.” Kataku.


            “Kau memplagiat karya seseorang, kan? Terus terang, itu membuatku kecewa daripada tidak ada hadirmu kemarin ketika pesta.” Tatapanmu semakin dalam, untuk sesaat aku merasa hanyut.


            “Katakan sejujurnya, Nis.” pintamu lirih. “Tatap aku. Jangan membuatku semakin kecewa.”


            “Ah, Gal…” entahlah, tiba-tiba aku merasa kerongkonganku seperti tercekat. “Tau darimana?” tanyaku pasrah.


            “Seseorang mengaduh kepadaku, tadi malam. Dia memperingatkanmu untuk tidak memplagiat karyanya lagi. Dia memintamu untuk menghapus segala karya yang telah kamu plagiat, meski dengan pengubahan secuil apapun. Atau tetap membiarkannya asal kamu mencantumkan namanya sebagai pembuat yang sesusungguhnya.” Nada bicaranya benar-benar menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Maafkanlah aku, Gal.


            “Hah? Bagaimana mungkin?? Aku tidak seperti itu…” aku berusaha mengelak. Aku tau, memang perkataanmu benar dan aku salah. Tapi coba dipikir, perempuan mana yang mau dengan mudahnya di salahkan atas kebohohannya? Apalagi di hadapan pria yang begitu dia cintai. Mending kalau di hadapan pria lain, terserah saja. Malas juga mau caper.


            “Gak baik ah, memplagiat karya oranglain tanpa meminta izin atau setidaknya memberi tau terlebih dulu. Malu-maluin..”


            Aku menunduk semakin dalam. Tidak berani menatapnya lagi. Dan sebisa mungkin, aku membendung airmataku agar tidak tumpah.


            “Maafkan aku, Gal. Kamu kena imbasnya..” kataku meminta maaf, penuh penyesalan.


            “Kamu salah meminta maaf kepadaku, kamu seharusnya meminta maaf kepadanya..”


            “Iya, akan aku lakukan..”


            “Lakukanlah..”


            “Iya, Gal. Secepatnya..”


            “Baguslah kalau begitu..”


            “Hmm, iya..”


            “Jangan ulangi hal ini lagi, sayang. Ini lebih membuatku kecewa di banding tidak adanya hadirmu kemarin..”


            “Iya. Maaf..”


            “Iya, termaafkan.”


            “Terimakasih, Gal..”


            “Sama-sama…”


            Lagi-lagi, hening.


            “Gal, apa kamu marah? Atau tepatnya, muak?” tanyaku hati-hati. Aku menyesal, merasa begitu bodoh. Kurasa, setelah ini reputasiku akan anjlok di matamu. Tapi jangan sampai itu terjadi.


            Kamu terdiam beberapa saat.


            “Aku tidak marah, tidak muak. Aku hanya kecewa saja. Bukan begini, Nis, caramu untuk terlihat lebih di mataku. Bukan begini, aku tegaskan.”


            “Lalu bagaimana caranya lagi, Gal?? aku harus bagaimana agar kamu tidak bosan kepadaku? Agar kamu tetap selalu disini, bersamaku?” aku mencoba merengek kepadamu. Selama ini, jurus yang tidak pernah gagal. Walau kerap, akhir-akhir ini aku khawatir kamu bosan kepadaku dan …. Abracadabra, hilang begitu saja.


            “Makanya, aku tak mau jadi oranglain selain diriku, ya seperti ini. Akan menyebabkan dampak yang cukup mendalam, dan aku lebih memilih bodoh karena aku takut, takut akan salah menggunakan kepintaran yang ada.” Kamu menggenggam tanganku. Genggaman tanganmu, Gal, tidak pernah gagal menguatkan aku.


            Genggam aku sekuat mungkin, Gal, tidakpapa aku remuk ditanganmu.


            “Jadi…” aku kehabisan kata-kata.


            “Jadilah dirimu yang apa adanya, sayang. Terimalah keadaan, aku lebih suka dengan dirimu yang apa adanya. Yang manja, cengeng, penakut dan lainnya, daripada kau yang pintar-cerdas tetapi salah menggunakan anugerah itu.”


            “Akan aku lakukan. Aku benar-benar minta maaf. Maafkanlah, Gal..”


            Kamu malah menarik kepalaku untuk disandarkan disandarkan ke dadamu. Membelai rambutku dengan lembut, dan sesekali menepuk-nepuk lembut keningku. Sedang itu, dadaku kian sesak dan aku tidak tau sampai berapa lama lagi aku mampu menahan gejolak ini. Rasa-rasanya sesaat lagi akan meledak.


            “Aku suka kekuranganmu yang nyata, bukan kelebihanmu yang mengada-ada.” katamu lembut, seraya meniup-niupkan rendah poniku. “Sesekali, bolehlah kau menjadi seseorang yang lebih dimataku. Tapi aku lebih senang kau menjadi dirimu yang apa adanya, nyata, tanpa mengada-ada.” pintamu lagi, membelai rambutku dengan lembut.


            Bagaimana caranya Tuhan menciptakan pria ajaib ini dulu? Aha! Aku tau, pasti adonannya sedikit kelebihan takaran ketimbang pria-pria lainnya. Pasti kelebihan pewarna sabar.

          “Ah, Gall….” renggekku manja. Bibirku pun seketika mengerucut, oksigen di dadaku seakan menipis membuatku semakin sesak dan aku memulai ritual menangisku.


            “Kalau aku lebih suka kamu yang begini. Apa adanya. Meski cengengnya minta ampun sekalipun!” kamu meremas tanganku, menggenggamnya makin erat. Mendengarmu, aku hanya bisa tersenyum pasrah seraya membiarkan pipiku tetap basah. “Percayalah, kamu tidak melewati kesedihan ini sendirian. Aku bersamamu. Selalu.” bisikmu lembut.


“Memang tidak banyak yang bisa pria sederhana ini berikan, tapi dia punya genggaman yang menguatkanmu.” bisikmu lagi, sedang kamu menggengamku makin erat. Apa jadinya kita, Gal, tanpa genggaman ini?


            Gal! Kamu seharusnya di masukkan kedalam kotak dan di buang ke laut. Tentu saja, aku ikut bersamamu di dalamnya. Agar paling tidak, hatimu tidak terkontaminasi jahatnya dunia ini.


            “Cinta yang  baik itu cinta yang bisa membuatmu melalui kesedihan dengan lebih baik. Menjalani persoalan dengan cara yang bijaksana. Di mana di dekapnya, segala kesulitan akan membuatmu justru semakin kuat.” –falafu.


            Terimakasih Gal, kamu selalu bisa seperti itu untukku. Dan terimakasih juga, untuk segala ketenangan yang tak bermuara.


Unknown

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar